Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

TINS Sedang Penjajakan 3 Partner untuk Garap Logam Tanah Jarang

TINS Sedang Penjajakan 3 Partner untuk Garap Logam Tanah Jarang
Produksi timah PT Timah Tbk (TINS), anak usaha MIND ID. (dok. MIND ID)
  • PT Timah menjajaki tiga calon mitra untuk mengembangkan pengolahan logam tanah jarang di wilayah IUP, dengan fokus awal pada riset dan pemetaan cadangan.
  • Perseroan belum memonetisasi REE; validasi cadangan, pemilihan teknologi, kebutuhan capex, serta kesepakatan investasi harus diselesaikan sebelum eksplorasi dan pengolahan.
  • Semester I-2026, laba bersih PT Timah melonjak 805 persen menjadi Rp2,71 triliun, mendorong penyusunan perubahan RKAP 2026 dengan target keuangan lebih tinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - PT Timah Tbk (TINS) tengah menjajaki kerja sama dengan tiga calon mitra untuk mengembangkan pengolahan logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) yang terdapat di wilayah izin usaha pertambangan (IUP) perseroan.

Direktur Strategi Korporasi & Pengembangan Usaha PT Timah Tbk, Harry Budi Sidharta, mengatakan pengembangan logam tanah jarang saat ini masih berada dalam tahap riset dan pembangunan.

Perseroan terlebih dahulu memetakan potensi cadangan sebelum menentukan teknologi pengolahan dan kebutuhan investasi.

“Saat ini PT Timah masih dalam proses riset dan pembangunan terkait dengan pengolahan tanah jarang. Strategi kita adalah melibatkan teknologi bersama PT Timah untuk mengembangkan pengolahan tanah jarang ini,” kata Harry dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9).

Menurut dia, salah satu tahapan penting yang sedang dilakukan adalah memetakan jumlah cadangan logam tanah jarang yang terdapat di dalam IUP PT Timah. Proses tersebut dilakukan bersama tiga calon partner yang saat ini masih dalam tahap penjajakan.

“Beberapa partner kami ada tiga partner sekarang dalam proses penjajakan, termasuk dalam pemetaan jumlah cadangan tanah jarang yang ada di IUP,” katanya.

Setelah potensi cadangan tervalidasi, PT Timah akan melanjutkan pembahasan mengenai teknologi pengolahan hingga kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) yang diperlukan. Investasi tersebut nantinya berpotensi dilakukan bersama dengan partner yang dipilih.

Harry mengatakan, proses pengembangan logam tanah jarang juga dilakukan dengan menggandeng pihak yang mendapat mandat pemerintah dalam pengelolaan komoditas tersebut. PT Timah, lanjutnya, terus berkoordinasi dengan Perminas dan Badan Investasi Mineral dalam pengembangan komoditas strategis tersebut.

“Bersama-sama kita melakukan pada 2026 ini. Sudah ada mengerucut beberapa partner yang menunjukkan sebagai partner pengelola tanah jarang,” ujar Harry.

Dia menambahkan, PT Timah belum masuk ke tahap monetisasi logam tanah jarang. Perseroan masih harus menyelesaikan rangkaian riset, validasi cadangan, penentuan teknologi, serta kesepakatan investasi dengan partner sebelum masuk ke tahap eksplorasi dan pengolahan.

Dalam menyusun rencana investasi, PT Timah juga menggunakan harga jual logam tanah jarang yang mengacu pada indeks harga yang tersedia sebagai salah satu dasar perhitungan keekonomian proyek.

Rencana pengembangan bisnis baru tersebut datang ketika kinerja PT Timah sepanjang semester I-2026 menunjukkan peningkatan signifikan. Perseroan membukukan laba bersih Rp2,71 triliun, melonjak 805 persen dibandingkan laba bersih pada periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pendapatan PT Timah juga tumbuh 147 persen secara tahunan menjadi Rp10,42 triliun. Dari sisi operasional, produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn atau naik 75 persen, sementara produksi logam timah meningkat 58 persen menjadi 10.865 metrik ton Sn.

Volume penjualan logam timah juga naik 85 persen menjadi 10.984 metrik ton dengan rata-rata harga jual US$49.794 per metrik ton.

Sejalan dengan kinerja tersebut, Direktur Keuangan PT Timah Tbk, Fina Eliani, mengatakan perseroan tengah menyusun perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 karena realisasi kinerja telah berada jauh di atas target yang sebelumnya disetujui pemegang saham.

“Dapat kami sampaikan, saat ini PT Timah sedang menyusun RKAP perubahan dikarenakan memang dari variabel dan pencapaian kinerja sudah jauh lebih tinggi dibandingkan yang telah disetujui pemegang saham sebelumnya,” ujar Fina.

Perubahan RKAP tersebut ditujukan untuk menetapkan target keuangan yang lebih tinggi. Namun, Fina belum dapat mengungkapkan besaran target baru karena masih menunggu persetujuan pemegang saham.

Untuk 2027, perseroan juga belum menyampaikan target keuangan secara terbuka, meski pemegang saham telah meminta laba bersih lebih tinggi dibandingkan dengan target 2026.

Dari sisi neraca, total aset PT Timah pada akhir semester I-2026 mencapai Rp16,4 triliun, tumbuh 21 persen secara tahunan. Kenaikan terutama ditopang oleh kas dan setara kas yang meningkat dari Rp1,7 triliun menjadi Rp4 triliun.

Sementara itu, liabilitas naik 13 persen menjadi Rp5,9 triliun, antara lain akibat pembayaran kewajiban utang dividen berdasarkan hasil RUPS 12 Juni 2026.

    Share Article
    Editorial Team

    Latest in Market

    See More