Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Harga Emas Melonjak, Safe Deposit Box Perbankan Kian Memikat
ilustrasi brankas (unsplash.com/Andrej Sachov)
  • Safe deposit box di perbankan terutama dipakai oleh nasabah kelas menengah atas.

  • Bank-bank besar seperti CIMB Niaga, Danamon, dan BCA mencatat pertumbuhan pengguna safe deposit box dengan okupansi tinggi.

  • OJK menilai kenaikan permintaan safe deposit box dipicu faktor keamanan dan ketidakpastian ekonomi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE  – Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyoroti fenomena harga emas yang melonjak ke level Rp3 juta per gram, yang membuat produk safe deposit box (SDB) perbankan meningkat. Ia mengeklaim gejala ini terlihat pada awal 2023 sejak terjadi perang antara Rusia dan Ukraina. 

"Kelas upper-middle mulai merelokasi wealth mereka ke emas sejak 2023. Berdasarkan data BI dan data Mandiri Spending Index kami, data produk safe deposit box laku keras untuk simpan emas,” kata Andry saat ditemui Fortune Indonesia.

Di Indonesia, layanan safe deposit box di perbankan diperkenalkan hampir bersamaan dengan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM), antara akhir 1980 hingga awal 1990-an. Namun, permintaan atas kotak penyimpanan ini rupanya tak lekang oleh waktu.

CIMB Niaga, misalnya, telah memfasilitasi 23.000 nasabahnya dengan safe deposit box. Jumlah itu memang hanya sekitar 0,27 persen dari total nasabah CIMB Niaga yang mencapai 8,5 juta. Namun, nasabah pengguna brankas di bank ini terus bertambah dengan kenaikan 7 persen (YoY) per Agustus 2025.

Direktur Consumer Banking CIMB Niaga, Noviady Wahyudi, sempat bercerita bahwa sebagian besar pengguna safe deposit box merupakan nasabah lama dengan masa berlangganan hingga bertahun-tahun. Kondisi itulah yang membuat tingkat keterisian SDB di CIMB Niaga tetap tinggi.

“Untuk yang box besar sedikit antre, karena okupansinya bisa sekitar 80 persen,” katanya.

Menurutnya, layanan safe deposit box di CIMB Niaga dapat diakses oleh seluruh nasabah baik perorangan maupun perusahaan (non-individu). Namun, nasabah kelas atas CIMB Preferred akan tetap diprioritaskan saat terjadi antrean.

Dengan sebaran safe deposit box di 74 kantor cabang CIMB Niaga di kota-kota besar, Dede optimistis dapat meningkatkan pertumbuhan nasabah pengguna mencapai 10 persen pada akhir 2025.

Sejak dihadirkan pada 2009, Dede mengakui bahwa biaya operasional dari layanan lemari besi tidaklah kecil, mulai dari pemeliharaan fasilitas, biaya keamanan, petugas, hingga pencadangan risiko. Karena itu, Dede menyebut, pendapatan dari bisnis safe deposit box di CIMB Niaga tumbuh moderat 4 persen (YoY) pada Agustus 2025.

Meski sumbangsihnya ke fee-based income tidak terlalu besar, bank asal Malaysia ini menganggap brankas pengaman sebagai layanan bernilai tambah yang melekat pada layanan cabang mereka, termasuk untuk wealth management

“Melihat tren positif perkembangan fasilitas safe deposit box, kami percaya bahwa ini merupakan salah satu indikator tingkat kepercayaan nasabah terhadap layanan CIMB Niaga,” kata Dede. “Khususnya terkait penyimpanan dokumen dan aset fisik yang bernilai, seperti surat berharga, perhiasan dan emas untuk melindungi dari risiko-risiko yang tidak diinginkan.” 

Pandangan senada juga disampaikan oleh Consumer Funding & Wealth Business Head Danamon, Ivan Jaya. Ia menganggap layanan safe deposit box cukup penting mesti tak memiliki andil yang signifikan terhadap pendapatan atau fee-based income ke Danamon. 

“Ada beberapa kompetitor yang melihat bahwa safe deposit box sebenarnya bukan merupakan service utama yang ditawarkan, karena fee-based income yang dihasilkan dari situ kecil. Namun, kami menganggap bahwa layanan ini adalah salah satu bagian penting dari pelayanan kami untuk nasabah Privilege,”  kata Ivan.

Dia mengeklaim, pengguna brankas di Danamon relatif stabil dengan okupansi mencapai 90 persen. Saat ini, safe deposit box Danamon hanya tersedia pada 50 cabang utama di sejumlah kota besar.

Bagaimanapun, Danamon lebih terbuka dalam menawarkan layanan safe deposit box untuk nasabah non-prioritas, mulai dari penyimpanan kotak ukuran kecil hingga sedang. Menurutnya, ini menjadi bagian dari strategi cross selling, karena nasabah pengguna brankas biasanya lebih terbuka menerima penawaran produk wealth management lain. 

“Karena dengan nasabah menempatkan barang-barang berharganya di safe deposit box, itu berarti menempatkan kepercayaan ke kami. Dan kepercayaan di dunia perbankan itu penting,” kata Ivan.

Bank swasta lain yang juga menyediakan brankas penyimpanan adalah Bank Central Asia (BCA). Bahkan, bank ini menghadirkan safe deposit box sejak periode 1990-an dan kini jumlahnya telah mencapai lebih dari 100.000 unit yang tersebar di 185 kantor cabang di berbagai kota.

Dody Santosa Iswan, Executive Vice President Individual Customer Business Development BCA, memandang layanan safe deposit box sebagai strategi diversifikasi bisnis yang berimbang pada berbagai lini produk wealth management.

Di BCA, brankas penyimpanan khusus diperuntukkan bagi nasabah Solitaire dan Prioritas. Dengan kondisi saat ini, ia melihat adanya permintaan dan kebutuhan yang besar dari para nasabah. Hal itu tecermin pada pengguna yang meningkat tiap tahunnya.

“Hingga akhir 2024, penggunaan safe deposit box BCA naik 5 persen secara tahunan, didorong permintaan akan layanan keamanan aset berkualitas tinggi,” kata Dody.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memantau permintaan terhadap brankas di perbankan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menilai bahwa naiknya permintaan terhadap safe deposit box tak hanya dipengaruhi oleh kenaikan aset nasabah, melainkan juga faktor psikologis yang berhubungan dengan isu politik dan keamanan.

Bahkan, peristiwa demonstrasi yang berujung kericuhan yang terjadi pada akhir Agustus 2025 pun dinilai turut berpengaruh terhadap permintaan safe deposit box.

“Dengan demikian, tren penggunaan safe deposit box yang kami amati lebih mencerminkan kebutuhan masyarakat akan keamanan aset pribadi yang terkelola dengan baik. Bukan merupakan reaksi sesaat atau short-term reaction terhadap dinamika sosial politik yang terjadi.” kata Dian.

Apalagi, riset dari HSBC mengenai Affluent Investor Snapshot 2025 menyatakan bahwa 79 persen nasabah kaya mengalami keresahan akan ketidakpastian ekonomi. Untuk itu, banyak nasabah kaya yang mengalihkan instrumen investasi ke emas fisik yang persentasenya mencapai 25 persen dari seluruh investasinya. Kondisi ini dinilai akan makin meningkatkan layanan safe deposit box untuk menyimpan aset emas fisik secara aman.

Sementara itu, temuan Safe Deposit Box Market Overview 2025 yang dirilis Business Research Insight menyebut, negara-negara berkembang di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, turut mendorong permintaan brankas berkat populasi kelas menengah yang terus tumbuh. Untuk itu, Dian berharap inovasi layanan safe deposit box bank dapat terus ditingkatkan. 

Topics

Editorial Team