Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Timur Tengah Tambah Panas, Harga Emas Diprediksi Tembus $6.000/Ounce

Timur Tengah Tambah Panas, Harga Emas Diprediksi Tembus $6.000/Ounce
ilustrasi Iran vs Israel (IDN Times/Besse Fadhilah)
Intinya Sih
  • Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga emas dunia.

  • Pengamat pasar memperkirakan harga emas bisa mencapai rekor baru lagi.

  • Ekonom menilai tren kenaikan emas masih berlanjut karena dianggap sebagai aset aman.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE Harga emas dunia diproyeksikan melonjak hingga ke level US$6.000 per troy ounce menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan memuncak setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan bersama ke Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan menyasar Tel Aviv serta pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, hingga Uni Emirat Arab.

Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga logam mulia ini akan kembali mencetak rekor tertinggi pada akhir Maret 2026. Berdasarkan data Trading View, harga emas telah mengalami kenaikan signifikan sebesar 22,01 persen sepanjang tahun berjalan (year-to-date) hingga 1 Maret 2026.

“Kemungkinan besar bahwa perang ini akan terus meletup, baik secara jangka pendek hingga jangka menengah, sehingga akan berdampak positif terhadap harga emas dunia. Level US$6.000 per troy ounce berpeluang besar tercapai pada bulan Maret ini,” kata Ibrahim melalui keterangan tertulis, dikutip Senin (2/3).

Menurut laporan Reuters, harga emas di pasar spot terkerek 1,35 persen ke posisi US$5.348 per ounce pada Senin (2/3) pukul 06.16 WIB. Sejalan dengan tren global, harga emas di pasar domestik terpantau bertengger pada level Rp3.135.000 per gram pada Senin pagi, atau naik Rp50.000 dibandingkan dengan perdagangan Sabtu (28/02).

Pergerakan harga komoditas ini diprediksi akan terus menguat pada awal perdagangan pekan ini seiring tensi di Timur Tengah yang belum mereda.

Merespons tren penguatan ini, Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai harga emas di Indonesia belum mencapai titik puncaknya (peak) dan berpotensi menyentuh rekor baru dalam waktu dekat. Bahkan, sejumlah proyeksi global berani menempatkan harga emas pada rentang US$6.000 hingga di atas US$7.000 per troy ounce.

“Kalau kita lihat dari polanya saja, meskipun sesekali harga emas turun, harganya bisa rebound lebih tinggi lagi. Sama seperti saham, terkadang terjadi penurunan namun itu merupakan healthy correction selama fundamentalnya bagus,” ujar Andry.

Ia mencermati fenomena lonjakan harga ini telah berlangsung sejak 2023. Sejak periode tersebut, investasi emas tidak lagi sekadar berfungsi sebagai instrumen pelindung inflasi (inflationary hedging), melainkan telah bertransformasi menjadi aset aman (safe haven) utama bagi masyarakat maupun otoritas moneter dunia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in Finance

See More