FWD Insurance Ungkap 66% Kelas Menengah Rentan Finansial

- Riset FWD Group dan Ipsos menunjukkan 66% masyarakat kelas menengah merasa stres akibat kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pendapatan, serta meningkatnya biaya layanan kesehatan.
- Generasi Z fokus pada kemandirian finansial, Generasi Y menghadapi tekanan sebagai sandwich generation, sementara Generasi X memprioritaskan stabilitas jangka panjang menuju masa pensiun.
- FWD Insurance menilai kondisi ini menjadi sinyal penting bagi industri asuransi untuk memperkuat perlindungan finansial masyarakat melalui inovasi dan teknologi yang berpusat pada kebutuhan pelanggan.
Jakarta, FORTUNE - Di tengah meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian pendapatan, dan kenaikan biaya layanan Kesehatan, masyarakat kelas menengah dinilai tengah berada dalam kondisi rentan secara finansial. Hal itu sebagaimana diungkap dalam riset FWD Group Holdings Limited, perusahaan induk FWD Insurance, bekerja sama dengan Ipsos, perusahaan riset pasar dan konsultansi multinasional.
Hasil riset menunjukkan, 66 persen responden merasa stres, khawatir, atau hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini dipicu oleh berbagai hal. Sebanyak 70 persen respoden mengaku pemicunya adalah kenaikan biaya hidup, 43 persen lainnya menilai adanya ketidakpastian pendapatan, sementara 40 persen lagi mengaku tingginya biaya kesehatan.
Rudy F. Manik, Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance mengatakan berbagai ketidakpastian mendorong masyarakat untuk lebih fokus pada menjaga stabilitas finansial dibandingkan pertumbuhan.
"Kami melihat bahwa masyarakat Indonesia saat ini menghadapi tekanan finansial yang semakin kompleks. Banyak individu yang belum sepenuhnya siap untuk menghadapi implikasi finansial dari usia hidup yang lebih panjang di tengah meningkatnya biaya kesehatan," katanya dalam Media Briefing di Jakarta, Senin (13/4).
Riset ini mengelompokan tiga generasi terkait kebutuhan dan kekhawatiran finansialnya. Pada generasi Z, yang termuda dari kelahiran 1996–2010, berfokus pada upaya dalam mencapai kemandirian finansial dengan dukungan proteksi yang sederhana dan terjangkau.
Sementara generasi Y, lahir di tahun 1981–1995, menghadapi tekanan sebagai sandwich generation di mana generasi ini harus menanggung biaya hidup untuk keluarga inti dan keluarga besar seperti orangtua dan saudara kandung, serta mempertahankan penghasilan hingga risiko inflasi;
Generasi X, yang lahir pada 1965-1980, memprioritaskan stabilitas jangka panjang dan mempertahankan kesejahteraan di usia pensiun.
Rudy mengatakan kondisi itu menjadi sinyal bagi industri jasa keuangan, khususnya asuransi. Pasalnya, di saat kebutuhan proteksi meningkat, kemampuan dan kesiapan masyarakat justru belum memadai.
"Hasil survei ini semakin memperkuat komitmen kami untuk menempatkan kebutuhan pelanggan sebagai pusat dari segala hal yang kami lakukan dengan dukungan teknologi," ungkapnya.


















