- Sumatra Selatan (Ekosistem Kopi): Pengembangan dilakukan dari hulu ke hilir. Produksi kopi nasional pada 2025 mencapai 832,7 ribu ton dan berpotensi melonjak hingga 1,2 juta ton per tahun lewat optimalisasi lahan serta industri olahan, dengan estimasi valuasi mencapai Rp129 triliun.
- Jawa Timur (Industri Susu Sapi Perah): Ditujukan untuk memperkuat rantai nilai pangan nasional melalui peningkatan produktivitas, adopsi teknologi, dan perluasan akses finansial dengan nilai ekonomi mencapai Rp49,5 triliun.
- Jawa Tengah (Ketahanan Pangan): Mengembangkan komoditas padi, jagung, dan rajungan yang mengantongi potensi ekonomi hingga Rp1.684 triliun.
- DKI Jakarta (Ekonomi Kreatif): Membidik sektor perfilman dan konten kreatif yang diproyeksikan mencetak nilai potensi sebesar Rp2.130 triliun pada tahun 2029.
Airlangga: Potensi Ekonomi Daerah Jadi Kunci RI Capai Target PDB 8 Persen

- Airlangga Hartarto menegaskan pertumbuhan ekonomi daerah menjadi kunci agar Indonesia bisa mencapai target PDB 8 persen, dengan momentum pertumbuhan nasional saat ini sebesar 5,61 persen.
- Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) yang digagas pemerintah dan OJK telah diterapkan di 40 kabupaten/kota untuk mengoptimalkan potensi sektor agrikultur dan ekonomi kreatif.
- Setiap wilayah memiliki fokus pengembangan berbeda, seperti kopi di Sumatera Selatan, susu sapi di Jawa Timur, pangan di Jawa Tengah, serta ekonomi kreatif di DKI Jakarta bernilai triliunan rupiah.
Jakarta, FORTUNE – Pemerintah percaya perekonomian Indonesia berada di jalur yang tepat (on track) menuju target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 8 persen. Momentum positif ini diperkuat oleh capaian kuartal I-2026 yang tumbuh 5,61 persen, dengan fokus akselerasi kini diarahkan pada optimalisasi potensi ekonomi di tingkat daerah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan pentingnya kontribusi daerah sebagai motor utama penyokong pertumbuhan agregat nasional. Menurutnya, kinerja ekonomi setempat akan langsung berpengaruh pada laju pertumbuhan di tingkat pusat.
“Daerah harus terus mendorong karena pusat itu agregat daerah. Jadi, kalau daerahnya di bawah nasional, tentu dia akan menjadi bandul ke bawah,” ujar Airlangga dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, Senin (25/5).
Airlangga memaparkan, kebijakan hilirisasi telah berhasil mendongkrak performa ekonomi di sejumlah wilayah secara signifikan hingga kuartal I-2026. Maluku Utara memimpin dengan lonjakan pertumbuhan 19,64 persen, disusul Nusa Tenggara Barat 13,64 persen, dan Sulawesi Tengah 8,32 persen.
Selain hilirisasi, ketahanan ini didorong oleh stimulus pembiayaan UMKM serta digitalisasi keuangan daerah. Intervensi tersebut terbukti efektif meningkatkan rata-rata pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar 18 hingga 27 persen per tahun.
Guna mengoptimalkan ceruk ekonomi daerah, pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengembangkan Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) sejak 2024. Program ini dirancang sebagai wadah kolaborasi lintas kementerian dan lembaga demi membangun ekosistem pendukung sektor riil lokal.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan ekspansi program PED kini telah menyentuh puluhan wilayah strategis di Indonesia guna mendorong sektor-sektor potensial.
“Dengan fokus pada sektor agrikultur dan ekonomi kreatif termasuk di Sumatra Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta,” kata Friderica. Sampai saat ini, program tersebut tercatat telah diimplementasikan di 40 kabupaten dan kota.
Dalam pelaksanaannya, OJK menerapkan empat tahapan taktis melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Langkah ini dimulai dari pemetaan potensi unggulan, integrasi kolaborasi multistakeholder, peningkatan kapasitas pembiayaan sektor jasa keuangan dan riil, hingga pemanfaatan produk keuangan untuk mengerek nilai tambah daerah.
Implementasi PED di empat provinsi percontohan menunjukkan proyeksi nilai ekonomi yang masif pada masing-masing komoditas unggulan:
Ke depan, pemerintah berkomitmen terus mempererat sinergi lintas sektoral guna memperluas jangkauan Program PED ke berbagai wilayah lain demi mengamankan target pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

















