Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Jaga Kurs Rupiah dan Likuiditas Pasar, BI-Rate Ditahan 5,75 Persen

Jaga Kurs Rupiah dan Likuiditas Pasar, BI-Rate Ditahan 5,75 Persen
Layar memampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Kamis (17/6/2021). Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI (BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRR) di level 3,5 persen (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Bank Indonesia menahan BI-Rate pada level 5,75 persen untuk menjaga stabilitas rupiah, menarik investasi asing, dan memperkuat likuiditas pasar uang serta perbankan.

  • BI melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menaikkan suku bunga SRBI guna meningkatkan kepemilikan nonresiden yang naik menjadi Rp288,65 triliun pada Juli 2026.

  • Tingkat inflasi Juni 2026 mencapai 3,34 persen YoY; BI berkomitmen menjaga inflasi dalam kisaran target 2,5±1 persen melalui sinergi dengan pemerintah dan mitigasi risiko cuaca.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta,FORTUNE Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juli 2026. Keputusan ini diambil guna mendorong aliran masuk investasi asing, memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, serta meningkatkan likuiditas dan mengurangi segmentasinya di pasar uang maupun perbankan.

Sejalan dengan penetapan tersebut, bank sentral juga menahan suku bunga deposit facility sebesar 4,75 persen dan suku bunga lending facility pada 6,50 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan orientasi kebijakan moneter saat ini tetap berfokus pada stabilitas (pro-stability). Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro-growth).

“Bank Indonesia yang tetap konsisten untuk semakin memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global, serta untuk mempertahankan inflasi pada tahun 2026 dan 2027 berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah,” ujar Perry saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/7).

Penetapan arah kebijakan moneter ini diwarnai oleh kembali meningkatnya tensi geopolitik dan geopolitik global. BI mengatakan nilai tukar rupiah kembali menguat ke Rp17.885/US$ pada 21 Juli 2026, setelah sempat mengalami tekanan sejak akhir Juni 2026 akibat re-eskalasi konflik di Timur Tengah dan menguatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan Fed Fund Rates.

“Lalu lintas di Selat Hormuz kembali terhambat sehingga mengganggu produksi dan rantai pasok perdagangan antarnegara serta harga minyak dan berbagai komoditas dunia berbalik naik,” kata Perry.

Meski demikian, nilai tukar rupiah tercatat relatif stabil jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Juni 2026 yang mencapai Rp17.880/US$. Untuk memastikan stabilitas valuta asing tetap terjaga, BI secara konsisten melakukan langkah intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri (off-shore), transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Sebagai bagian dari bauran kebijakan untuk menarik portofolio asing, BI juga menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Langkah ini menunjukkan hasil positif. Kepemilikan nonresiden pada instrumen SRBI merambat naik dari Rp238,09 triliun per 15 Juni 2026 menjadi Rp288,65 triliun pada 20 Juli 2026, atau memegang porsi sekitar 27,11 persen dari total posisi SRBI.

Guna memperkuat daya tarik instrumen keuangan dalam negeri dan mengkompensasi beban investor, BI turut memberikan insentif pemangkasan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10 persen bagi investor asing.

Di sisi inflasi, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen secara tahunan (YoY), sedikit meningkat dari realisasi bulan sebelumnya yang mencapai 3,08 persen (YoY).

Ke depannya, BI berkomitmen memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah—termasuk memitigasi risiko cuaca buruk (El Nino) terhadap pasokan pangan—agar target inflasi 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027 tetap terealisasi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More