Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Indonesia Jadi Target Utama, HSBC Siapkan US$4 Miliar Ekspansi Kredit Energi Hijau

Indonesia Jadi Target Utama, HSBC Siapkan US$4 Miliar Ekspansi Kredit Energi Hijau
Ilustrasi logo HSBC (www.hsbc.com.sg)
Intinya Sih
  • HSBC Tiongkok meluncurkan fasilitas kredit US$4 miliar untuk mendukung ekspansi perusahaan energi bersih dan rendah karbon ke pasar global, dengan Indonesia sebagai target utama pengembangan.
  • Fasilitas ini menyasar sektor energi terbarukan, transportasi elektrik, pusat data, dan AI, serta didukung oleh perjanjian dagang ACFTA 3.0 yang memperluas kerja sama ke ekonomi hijau dan digital.
  • Indonesia diproyeksikan butuh pendanaan sekitar US$97 miliar untuk mencapai target iklim 2030, sementara HSBC siap menyalurkan pembiayaan guna memperkuat transisi energi dan investasi hijau di Tanah Air.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, FORTUNE - HSBC Tiongkok meluncurkan fasilitas kredit senilai US$4 miliar untuk mendukung perusahaan Tiongkok di sektor energi bersih dan rendah karbon berkespansi di pasar global, salah satunya Indonesia sebagai target utama pengembangan.

Global Head of Sustainable Finance and Transition HSBC, Natalie Blyth, mengatakan bahwa Tiongkok menyumbang 47 persen ekspor teknologi bersih global, diikuti sekitar dua pertiga berasal dari ekspor tenaga Surya dan baterai global.

Penjualan kendaraan listrik diperkirakan mencapai 26 juta unit di seluruh dunia pada 2026, dan penggunaan tenaga listrik dari pusat data global diproyeksikan meningkat sekitar dua kali lipat dari sekitar 485 TWh pada tahun 2025 menjadi 945 TWh pada 2030.

"Seiring perusahaan berkembang secara internasional, mereka membutuhkan mitra finansial dengan jangkauan global dan keahlian untuk mendukung mereka. Fasilitas kredit ini dirancang untuk menyediakan dukungan tersebut," ujar Natalie dalam keterangan resmi, Kamis (29/5).

Fasilitas kredit keberlanjutan dan transisi (Sustainability and Transition Credit Facility)disediakan bagi perusahaan Tiongkok yang memenuhi syarat seperti termasuk dalam energi terbarukan, transportasi elektrik, pusat data, dan kecerdasan buatan (AI).

Ekspansi pasar ini juga ditopang oleh perjanjian dagang ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 Upgrade Protocol. Perjanjian dagang ini untuk pertama kalinya memperluas kerja sama perdagangan Tiongkok-ASEAN ke sektor ekonomi hijau, ekonomi digital, dan konektivitas rantai pasok.

Sebagai bagian dari ASEAN, Indonesia dilirik menjadi peluang investasi paling signifikan. Kebutuhan pendanaan diproyeksikan sekitar US$97 miliar untuk mencapai target iklim Indonesia tahun 2030, sebagaimana tertuang dalam Comprehensive Investment and Policy Plan (CIPP) dari Just Energy Transition Partnership (JETP).

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025 Indonesia menargetkan pengembangan 42.569 MW kapasitas energi terbarukan baru pada tahun 2034. Indonesia berpotensi meraih untung dari meningkatnya suplai energi bersih, seiring dengan fakta bahwa 91 persen proyek tenaga angin dan surya yang baru beroperasi pada tahun 2024 lebih murah dibandingkan harga bahan bakar fosil termurah dunia.

Presiden Direktur HSBC Indonesia, Stuart Rogers, mengatakan Indonesia dan Tiongkok sepakat memperdalam kerja sama transisi energi dalam beberapa tahun terakhir. Keselarasan prioritas kebijakan ini mendukung fasilitas kredit terbaru HSBC dalam menyalurkan pendanaan ekonomi hijau dari Tiongkok ke pasar seperti Indonesia.

"HSBC berada pada posisi strategis untuk menghubungkan ambisi Indonesia dengan perusahaan energi bersih kelas dunia, termasuk dari Tiongkok, yang memiliki teknologi, pengalaman, dan kapasitas untuk mewujudkannya," pungkasnya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .

Related Articles

See More