Gandeng ANA, HSBC Bidik Kenaikan Transaksi Lewat Travel Fair

HSBC Indonesia menggandeng ANA dalam pameran perjalanan flagship di tengah proses pengalihan bisnis ritel dan wealth management kepada OCBC NISP.
HSBC menargetkan transaksi lebih tinggi, sementara realisasi pameran Oktober 2026 masih sesuai target dan berada di atas proyeksi awal.
ANA menyumbang sekitar 42 persen penerbitan tiket, dengan Jepang dan Amerika Serikat sebagai rute utama transaksi.
Jakarta, FORTUNE- PT Bank HSBC Indonesia menggandeng maskapai asal Jepang, All Nippon Airways (ANA), dalam penyelenggaraan pameran perjalanan flagship pada Oktober 2026. Gelaran tersebut menjadi salah satu strategi perseroan dalam mendorong transaksi sekaligus mempertahankan layanan kepada nasabah di tengah proses pengalihan bisnis ritel dan wealth management HSBC Indonesia kepada PT Bank OCBC NISP Tbk.
Head of Marketing & Customer, IWPB, HSBC Indonesia, Fransisca Arnan mengatakan proses pengalihan bisnis tersebut ditargetkan rampung pada 2027. Selama proses transisi berlangsung, HSBC memastikan layanan kepada nasabah tetap berjalan.
"Jadi bukan berarti diumumkan terus artinya kami sudah tidak perlu melayani nasabah. Justru ini saat, momen yang sangat penting, karena kami sangat mengutamakan transisi yang sangat baik untuk nasabah kami," kata Fransisca dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/10).
Di sisi bisnis, HSBC menargetkan nilai transaksi dalam pameran perjalanan Oktober 2026 lebih tinggi dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Pada Januari 2026, nilai transaksi pra-penjualan (pre-sale) tercatat tumbuh 31 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), sedangkan total transaksi meningkat 44,35 persen (YoY).
Menurut Fransisca, realisasi tersebut juga melampaui target yang telah ditetapkan perseroan. Pencapaian transaksi pada penyelenggaraan sebelumnya mencapai 143% dari target.
"Jika dibandingkan dengan target, pencapaian kita 143 persen Jadi bisa dibayangkan kalau yang terakhir kemarin segitu, yang kita targetkan untuk kali ini tentunya lebih besar," ujarnya.
Dia menambahkan, realisasi transaksi pada pameran Oktober 2026 sejauh ini masih sejalan dengan target HSBC, bahkan berada di atas proyeksi awal yang telah ditetapkan.
Dari sisi maskapai, Chief Representative ANA Indonesia Tetsuma Fujii mengatakan penyelenggaraan pameran pada Oktober menjadi momentum bagi konsumen untuk membeli tiket lebih awal, seiring dengan proyeksi kenaikan tarif penerbangan global pada 2027.
Mengacu pada data Global Business Travel Association dan Altour, tarif penerbangan global diproyeksikan meningkat rata-rata 1,5 persen pada 2027.
Sementara itu, tarif kelas ekonomi di kawasan Asia-Pasifik diperkirakan naik 2,5 persen, dipengaruhi kenaikan biaya operasional dan bahan bakar.
ANA juga akan menaikkan fuel surcharge mulai 1 November 2026. Kondisi tersebut, menurut dia, membuat periode pameran menjadi momentum bagi konsumen yang telah merencanakan perjalanan untuk melakukan pembelian tiket.
"Sudah dipastikan akan naik (fuel surcharge) per 1 November. Jadi saat ini adalah saat yang paling tepat untuk membeli tiket," kata Fujii.
Dalam pameran tersebut, penerbangan ANA menyumbang sekitar 42 persen dari total penerbitan tiket. Adapun, Jepang dan Amerika Serikat menjadi rute utama, dengan kontribusi sekitar 57 persen terhadap total transaksi.




















