Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Kredit Bank Stagnan Tumbuh Single Digit, Ini Analisis Bos BRI 
Direktur Utama BRI Hery Gunardi. (dok. BRI)

  • Kredit perbankan stagnan tumbuh single digit dalam beberapa bulan terakhir 2025.

  • Penyebabnya adalah faktor daya beli dan permintaan yang lemah, terutama dari kredit konsumsi dan UMKM

  • Rasio kredit macet (NPL) perbankan juga masih dalam tren meningkat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Industri perbankan nasional menutup 2025 dengan tren pertumbuhan kredit yang tertahan pada level satu digit (single digit). Kondisi ini dinilai bukan berpangkal dari kekeringan likuiditas, melainkan rapuhnya daya beli masyarakat serta sikap skeptis sektor usaha dalam melakukan ekspansi.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Hery Gunardi, mengidentifikasi bahwa pelemahan permintaan menjadi faktor utama, terutama pada segmen kredit konsumsi dan UMKM. Kondisi ini menciptakan situasi unik ketika perbankan memiliki ruang pendanaan yang luas, tapi minim penyerapan.

“Fasilitas kredit sudah disetujui oleh bank dan likuiditas tersedia, tetapi realisasi penarikan tertahan. Ini mencerminkan sikap wait and see dari dunia usaha dan juga rumah tangga sebagai nasabah individu,” ujar Hery dalam forum Economic Outlook di Jakarta, Kamis (19/2).

Merespons anomali tersebut, Hery yang juga menjabat Ketua Umum Perbanas, memaparkan data penting mengenai degradasi daya beli.

Indeks daya beli masyarakat kelas bawah masih berada pada zona negatif, yakni -0,34 pada 2025. Tekanan lebih berat justru dialami kelompok menengah dengan indeks -0,39, atau merosot 11 basis poin dibandingkan dengan 2024.

Sebaliknya, pemulihan hanya tampak pada kelompok atas yang berhasil kembali ke zona positif dengan indeks 0,13.

Lesunya daya beli ini berimplikasi langsung pada profil risiko perbankan. Bank Indonesia (BI) mencatat rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) agregat berada pada angka 2,05 persen (bruto) dan 0,79 persen (neto) per Desember 2025. Namun, sorotan tajam tertuju pada sektor UMKM yang mencatatkan NPL cukup tinggi pada 4,33 persen.

“Angka NPL mulai meningkat sejak Desember 2024 dan bertahan di level yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan tekanan arus kas pelaku UMKM belum sepenuhnya pulih,” kata Hery.

Secara kumulatif, hingga Desember 2025, kredit perbankan tumbuh 9,3 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Kendati masih pada level satu digit, angka ini menunjukkan akselerasi tipis jika dibandingkan pertumbuhan November 2025 yang sebesar 7,9 persen (YoY).

Menyongsong 2026, sektor perbankan memproyeksikan pertumbuhan kredit akan tetap berada di jalur positif, seiring dengan efektivitas rangkaian stimulus ekonomi yang digulirkan oleh pemerintah.

Editorial Team