Jakarta, FORTUNE – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kinerja penjualan eceran akan berada dalam tren positif selama tiga bulan mendatang. Momentum Ramadan dan Idul Fitri menjadi katalis utama yang memacu permintaan domestik.
Optimisme ini tecermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Maret 2026 yang menanjak ke level 146,8. Posisi ini meningkat dibandingkan periode Januari 2026 yang tercatat sebesar 143,2.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebut siklus tahunan hari besar keagamaan memiliki andil besar terhadap sentimen ini.
“Peningkatan tersebut didorong oleh ekspektasi kenaikan harga pada periode HBKN Idul Fitri 1447 H,” ujar Ramdan dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (10/2).
Sejalan dengan proyeksi penjualan, tekanan harga juga diperkirakan menguat. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Maret dan Juni 2026 masing-masing tercatat sebesar 175,7 dan 156,3. Angka ini lebih tinggi jika disandingkan dengan IEH periode sebelumnya, yakni 168,6 dan 154,5.
Di luar ekspektasi masa depan, kinerja penjualan eceran pada Januari 2026 diprediksi tumbuh impresif sebesar 7,9 persen secara tahunan (YoY).
Ramdan menambahkan, akselerasi tersebut ditopang oleh sejumlah sektor kunci. Kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang menjadi pendorong utamanya.
Melihat ke belakang, tren pertumbuhan sudah terlihat sejak akhir tahun lalu. Pada Desember 2025, Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 3,5 persen (YoY). Penjualan suku cadang, aksesori, serta makanan dan minuman menjadi kontributor dominan.
Secara bulanan, penjualan eceran Desember 2025 juga mencatatkan pertumbuhan 3,1 persen (MtM). Capaian ini melampaui pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 1,5 persen (MtM).
Sebagai konteks makroekonomi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Januari 2026 berada di level 3,55 persen. Kendati demikian, secara bulanan tercatat terjadi deflasi sebesar 0,15 persen.
