Jakarta, FORTUNE – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mendekati level Rp17.000/US$ yang disebabkan oleh sejumlah sentimen dalam negeri maupun global. Untuk itu Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memasang kuda-kuda strategi untuk meredam pelemahan nilai tukar.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank BI, Erwin G. Hutapea mengatakan, kondisi ini terjadi lantaran meningkatnya tekanan di pasar keuangan global. Eskalasi tensi geopolitik hingga kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju membuat mata uang garuda tak berdaya.
“Tekanan juga terjadi akibat ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” kata Erwin dalam keterangan tertulis yang dikutip di Jakarta, Kamis (15/1).
Erwin menambahkan, bank sentral juga terus konsisten mengintervensi pasar melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar off-shore Asia, Eropa, dan Amerika. Serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder.
Menurutnya, berbagai upaya tersebut berbuah positif dengan masuknya aliran modal asing yang masuk terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham, turut menopang stabilitas rupiah. Secara neto, arus modal asing mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026.
Di sisi lain, kebijakan fiskal yang dijalankan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa juga diarahkan untuk terus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Salah satu strateginya ialah akselerasi anggaran dengan tujuan agar belanja fiskal bisa tersalurkan di awal tahun. Bahkan, Purbaya optimis ekonomi Indonesia pada tahun ini mampu mencapai level 6 persen dan nilai tukar akan berangsur menguat dalam waktu dekat.
"Dua minggu ini (rupiah akan menguat). Kalau nanti ekonominya membaik terus harusnya rupiah akan menguat juga hampir otomatis," kata Purbaya pada acara Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 yang diselenggarakan oleh IDN Times, (14/1).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,07 persen atau 12 poin ke level Rp16.865/US$ pada Rabu (14/1/2026). Adapun pada saat bersamaan, indeks dolar AS melemah tipis 0,01 persen ke level 99,14. Meski demikian, data BI menunjukkan bahwa pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lain yang juga terdampak sentimen global, seperti won Korea yang melemah 2,46 persen dan peso Filipina 1,04 persen.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan nilai tukar rupiah pada hari ini (15/1) masih akan fluktuatif namun diramal masih ditutup melemah direntang Rp16.860/US$ hingga Rp16.890/US$.
