Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Rupiah Ditutup Melemah Rp16.758/US$  Akibat Geopolitik Venezuela & Inf

ilustrasi dolar Amerika
ilustrasi dolar Amerika (pixabay.com/Sandra Gabriel)
Intinya sih...
  • Rupiah ditutup melemah 18 poin atau sekitar 0,11 persen pada level Rp16.758/US$ akibat ketidakpastian geopolitik global dan inflasi nasional.
  • Penangkapan Presiden Venezuela oleh AS mengejutkan pasar global, sementara Wakil Presiden Venezuela belum tegas menantang intervensi AS.
  • Tingkat inflasi terkendali sebesar 2,92 persen (yoy) di Desember 2025 dipengaruhi oleh naiknya harga beberapa komoditas pangan dan rendahnya inflasi administered price (AP).
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 18 poin atau sekitar 0,11 persen pada level Rp16.758/US$ pada perdagangan Selasa (6/1) yang dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik global dan inflasi nasional.

Pengamat ekonomi mata uang yang juga Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro terhadap Amerika Serikat telah mengejutkan pasar global pada minggu ini.

“Trump mengisyaratkan bahwa AS akan mengambil alih kendali sementara Venezuela dan membuka industri minyak negara itu, mengundang perusahaan minyak besar Amerika untuk berinvestasi di negara tersebut,” kata Ibrahim melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (6/1).

Sementara itu, Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez yang dilantik sebagai presiden sementara pada hari Senin (5/1) juga dinilai belum tegas apakah berniat menantang intervensi AS atau tidak. Ibrahim memandang, konflik geopolitik ini akan memengaruhi pergerakan nilai tukar pekan ini.

Selain itu, stabilitas harga yang tetap terjaga di 2025 juga menjadi faktor pergerakan nilai tukar hari ini. Tercatat, tingkat inflasi terkendali sebesar 2,92 persen (yoy) di Desember 2025. Tingkat inflasi ini dipengaruhi oleh naiknya harga beberapa komoditas pangan di tengah tetap menguatnya inflasi inti dan rendahnya inflasi administered price (AP). 

Gangguan cuaca dan kendala distribusi mendorong naiknya inflasi volatile food hingga mencapai 6,21 persen  (yoy), dipengaruhi oleh komoditas aneka cabai, beras, dan ikan segar. Inflasi AP tercatat sedikit meningkat menjadi 1,93 persen (yoy) yang didorong oleh kenaikan harga bensin nonsubsidi dan tarif transportasi di periode natal dan tahun baru (Nataru).

“Selain itu, pergantian tahun ajaran pendidikan, momen perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN), peningkatan harga emas perhiasan selaras dengan harga emas global yang terus meningkat sepanjang tahun,” pungkas Ibrahim.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in News

See More

Tren Pindah Kantor, Indikasi Kepercayaan Dunia Usaha Mulai Pulih

07 Jan 2026, 16:11 WIBNews