Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

OJK: Ekonomi Global Melambat, Sektor Jasa Keuangan Domestik Tetap Stabil

3 min read
OJK: Ekonomi Global Melambat, Sektor Jasa Keuangan Domestik Tetap Stabil
Kantor OJK Provinsi Jawa Tengah di Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
  • OJK menilai sektor jasa keuangan Indonesia tetap stabil pada akhir September 2026, didukung indikator makroekonomi domestik yang solid di tengah perlambatan ekonomi global dan risiko geopolitik.
  • Inflasi domestik terjaga di 3,28 persen, sementara OECD menaikkan proyeksi pertumbuhan Indonesia 0,5 persen untuk 2026; kredit perbankan Agustus tumbuh 13,65 persen menjadi Rp9.178 triliun.
  • IHSG terkoreksi 6,96 persen pada September, disertai penurunan AUM dan NAB reksa dana; namun investor pasar modal bertambah 1,03 juta menjadi 32,17 juta secara kumulatif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai Sektor Jasa Keuangan (SJK) Indonesia tetap stabil pada periode akhir September 2026. Ketahanan ini tercapai di tengah bayang-bayang ketidakpastian geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global.

Keputusan tersebut merupakan hasil evaluasi Rapat Dewan Komisioner OJK. Kinerja sektor keuangan domestik disokong oleh indikator makroekonomi nasional yang tetap solid dan terkendali.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, memandang pertumbuhan ekonomi global 2026 bakal lebih rendah ketimbang 2025. Kendati demikian, proyeksi OJK terhadap ekonomi global saat ini membaik. Perkembangan positif ini terdorong oleh peningkatan investasi serta aktivitas perdagangan berbasis kecerdasan buatan (AI).

“Namun demikian, keberlanjutan momentum pertumbuhan masih menghadapi tantangan dari kenaikan inflasi global akibat eskalasi konflik geopolitik yang kembali menaikkan harga minyak, serta very strong El Nino yang berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan komoditas pertanian,” kata Friderica dalam acara konferensi pers di Jakarta, Senin (5/10).

Dari sisi domestik, kondisi perekonomian Indonesia tergolong stabil. Kenaikan inflasi global dapat diredam dengan laju inflasi dalam negeri yang terjaga pada 3,28 persen. Capaian ini masih berada dalam rentang target pemerintah. Kondisi tersebut menjaga daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat, sekaligus menjadi penopang utama pertumbuhan nasional.

Resiliensi ekonomi Indonesia juga mendapat pengakuan internasional. OECD menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,5 persen pada 2026. Penyesuaian ini mencerminkan tingginya kepercayaan global terhadap ketahanan ekonomi nasional.

Fungsi intermediasi perbankan turut menunjukkan tren penguatan. Penyaluran kredit pada Agustus 2026 tumbuh 13,65 persen secara tahunan (YoY). Angka ini meningkat dibandingkan Juli 2026 yang tumbuh 13,58 persen (YoY). Total kredit yang dikucurkan perbankan kini mencapai Rp9.178 triliun.

Dinamika berbeda terjadi di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ke 6.071,14 pada akhir September 2026. Pasar terkoreksi 6,96 persen secara bulanan (MtM). Meski begitu, likuiditas dan resiliensi pasar saham domestik tetap terjaga dengan baik. Bid-ask spread rata-rata sebesar 1,20 persen, relatif stabil dari posisi Agustus sebesar 1,17 persen.

Kinerja industri pengelolaan investasi menempuh penyesuaian seiring dinamika pasar. Nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.004,68 triliun per akhir September 2026 alias terkoreksi 1,55 persen (MtM) dan 3,65 persen secara tahun berjalan (YtD).

Sejalan dengan itu, Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana mencapai Rp637,07 triliun, atau termoderasi 2,42 persen (MtM) dan 5,66 persen (YtD). Pemodal reksa dana membukukan net redemption Rp10,43 triliun (MtM).

Di tengah tekanan pasar, partisipasi pemodal ritel terus meningkat berkat penguatan ekosistem digital. Jumlah investor pasar modal bertambah 1,03 juta orang selama September 2026 (MtM). Secara kumulatif (YtD), jumlah investor melonjak 57,96 persen menjadi 32,17 juta investor.

Friderica menegaskan perkembangan positif ini membuktikan kontribusi nyata sektor keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Stabilitas sektor keuangan diyakini tetap kuat berkat fundamental industri yang solid.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More