Jakarta, FORTUNE — PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) memilih jalur aman pada awal tahun ini. Alih-alih mengejar pertumbuhan laba bombastis, emiten multifinance ini justru menebalkan pencadangan. Dampaknya, laba bersih perusahaan terkoreksi 12,61 persen secara tahunan dari Rp405,49 miliar menjadi Rp354,3 miliar pada kuartal I-2026.
Penyusutan laba ini merupakan ongkos dari strategi kehati-hatiannya. Di tengah kondisi ekonomi global dan domestik yang kurang cerah, BFI mengerek alokasi provisi hingga 42,37 persen (YoY). Langkah ini diambil demi menjaga rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Finance (NPF) tetap berada pada zona aman.
“Kami optimistis dapat terus menjaga postur risiko yang sehat. Pendekatan selektif dan disiplin menjadi kunci dalam mengantisipasi volatilitas pasar serta menjaga fondasi keberlanjutan bisnis kami,” ujar Sutadi, Presiden Direktur BFI Finance, melalui keterangan resmi yang dikutip Senin (4/5).
Hasil dari kedisiplinan tersebut tecermin pada rapor kualitas aset. Per 31 Maret 2026, rasio NPF bruto dan neto masing-masing terjaga pada level 1,57 persen dan 0,25 persen. Perusahaan juga memasang pengaman ekstra dengan rasio coverage terhadap NPF bruto sebesar 2,71 kali.
Meski laba bersih melandai, pundi-pundi pendapatan BFI sebenarnya masih menunjukkan kekuatan. Perusahaan membukukan pendapatan Rp1,7 triliun, alias tumbuh 3,1 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.
Sepanjang tiga bulan pertama 2026, emiten dengan kode saham BFIN ini telah mengucurkan pembiayaan baru senilai Rp5,5 triliun. Angka ini relatif stabil jika disandingkan dengan kuartal sebelumnya. Menurut Sutadi, kestabilan penyaluran ini mencerminkan resiliensi bisnis sekaligus konsistensi perusahaan dalam menerapkan prinsip selektivitas dan disiplin risiko.
Kendaraan roda empat masih menjadi tulang punggung dengan porsi mencapai 68,1 persen—mencakup refinancing maupun pembelian unit. Sisanya, pembiayaan alat berat dan mesin berkontribusi 15 persen, disusul pembiayaan beragun properti dan lainnya sebesar 8,9 persen, serta segmen roda dua yang menyumbang 8 persen.
“Kami akan terus mengoptimalkan diversifikasi sumber pendanaan serta memperkuat kolaborasi strategis dengan para mitra,” kata Sutadi.
Di sisi lain, parameter profitabilitas perusahaan masih tergolong solid.
Return on Assets (RoA) bertengger pada level 7,0 persen dengan Return on Equity (RoE) mencapai 13 persen. Hingga akhir Maret, total aset perusahaan Rp25,3 triliun.
Sementara itu, total piutang pembiayaan yang dikelola (managed receivables) menyentuh Rp26,8 triliun atau naik 5,5 persen (YoY). Kemudian, 57,8 persen atau setara Rp15,5 triliun dari total piutang tersebut mengalir untuk membiayai modal kerja berbagai skala usaha.
