Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Penumpang 1,1 Juta Per Hari, KAI Usulkan Impor KRL Bekas dari Jepang

4 min read
Penumpang 1,1 Juta Per Hari, KAI Usulkan Impor KRL Bekas dari Jepang
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin. (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • KAI mengusulkan impor 23 trainset bekas dari Jepang untuk memenuhi kebutuhan KRL Jabodetabek yang meningkat dan menggantikan rangkaian yang menua.

  • Jumlah penumpang KRL Jabodetabek mencapai rata-rata 1,1 juta per hari, sementara sebagian trainset berusia lebih dari 41 tahun.

  • KAI dan INKA berencana berkonsolidasi, termasuk mengintegrasikan manufaktur, perawatan, rekayasa, serta fasilitas produksi dan pelabuhan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Setujukah kamu dengan rencana impor KRL bekas?
Share Article

Jakarta, FORTUNE - PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana melakukan impor rangkaian kereta bekas dari Jepang untuk memenuhi kebutuhan KRL Jabodetabek yang terus menghadapi peningkatan jumlah penumpang sementara rangkaian krl mengalami penuaan.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan kebutuhan tambahan armada merupakan hal mendesak seiring pertumbuhan jumlah penumang harian. Kebutuhan pada 2026-2031 awalnya diproyeksi sekitar 1 juta per harinya. Namun, lonjakan yang tak terbendung, kini rata-rata penumpang KRL Jabodetabek mencapai 1,1 juta per hari, meningkat sekitar 11 persen pada 2026 dibandingkan semester I tahun lalu, dengan 1065 perjalanan per hari.

"Artinya memang untuk transportasi commuter, kereta menjadi pilihan iutama," ujar Bobby saat mengajukan impor KRL di Gedung DPR, Rabu (23/9).

Dengan asumsi awal tadi, kebutuhan trainset adalah 104 unit. Perhitungan tersebut mencakup kebutuhan operasional, cadangan 3 persen, dan perawatan 16 persen. Sementara jumlah sarana pada awal 2026 hanya 102 trainset. Ditambah lagi, sebagian kereta tua perlu dipensiunkan.

"Jumlah sarana awal tahun 102, rencana memensiunkan kereta trainset itu 13 tahun. itu rata-rata usia kereta kita sudah lebih dari 41 tahun," kata Bobby.

KAI memproyeksikan hal ini akan terus naik, dan memuncak pada 2029 karena pada saat itu sejumlah besar trainset diperkirakan telah mencapai usia sekitar 45 tahun.

"Ketika trainset-trainset kita ini sudah berumur 45. Ini kita sudah tidak deal, satu sparepart-nya sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue," katanya.

  1. Kereta INKA Belum Layak

    Sebelumnya KAI telah memesan 16 unit KRL dari PT INKA, namun saat ini baru tujuh unit yang diterima dan beroperasi. INKA awalnya memproyeksikan mampu memproduksi delapan unit KRL per tahun, tetapi kenyataannya hanya 2-3 unit per tahun. "Ada keterlambatan lebih dari satu tahun." kata Bobby.

    Kendati demikian tujuh trainset tersebut sempat ditarik kembali oleh KAI untuk menjalani pemeriksaan, setelah ditemukan komponen di rangka bawah fraktur atau retak yang mana dapat mengganggu operasional kereta.

    KAI pun mengelompokkan komponen kereta berdasarkan tingkat dampaknya menjadi tiga kategori. No-go item merupakan komponen yang menyangkut aspek keselamatan, sementara major item berpotensi memengaruhi kelancaran operasi dan minor item berkaitan dengan aspek kenyamanan.

    "Ini produksi lokal, dalam negeri. Mungkin waktu itu yang dikejar itu kan TKDN, ya, local content. Sehingga kami melihat di mana lagi komponen ini yang diproduksi di batch yang sama. Nah, itu ketemu di 7 rangkaian unit," kata Bobby.

    Setelah menjalani pemeriksaan, dari tujuh trainset yang ditarik, dua trainset telah dinyatakan bebas dari persoalan kategori no-go item dan kembali dioperasikan. Sementara lima trainset lainnya ditargetkan selesai diperbaiki secara bertahap hingga 9 Oktober 2026.

    Dengan kondisi ini, KAI pun mengusulkan untuk mengimpor kereta bekas dari Jepang sejumlah 23 trainset. Rinciannya, tujuh trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta.

    Menurut Bobby, pengadaan KRL bukan baru menjadi solusi sembari KAI memperkuat kapasitas produksi dalam negeri, dan menutup kekurangan rangkaian akibat pension.

    "Namun sebagai solusi bridging-nya, untuk pemenuhan sarana pada hari ini yang akan kita utilisasi paling maksimum itu 10 tahun ke depan, itu dengan melakukan impor kereta bukan baru dari Jepang," jelas Bobby.

    Pada kesempatan yang sama, Bobby mengungkapkan konsolidasi KAI dengan INKA akan dimulai tahun depan, setelah uji tuntas dan due diligence selesai.

    "Jadi inbrengnya bulan ini, ya, nanti tapi inbrengnya, inbreng bersyarat. Jadi rencana nanti konsolidasi integrasinya itu di 1 Januari. Karena kami sekarang ini sudah melakukan due diligence, sudah selesai," jelas dia.

    Setelah keduanya merger, bengkel-bengkel kereta api milik KAI akan masuk ke INKA. Sehingga ke depannya INK tidak hanya melakukan manufaktur dan perawatan, tetapi juga rekayasa sebagaimana bengkel-bengkel kereta api milik KAI atau Balai Yasa.

    Bobby juga menyampaikan rencana mengintegrasikan fasilitas produksi INKA di Banyuwangi dengan pelabuhan setempat. Integrasi tersebut memungkinkan pengiriman kereta dilakukan melalui jalur laut sehingga biaya logistik untuk distribusi produk INKA dapat ditekan.

Share Article
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .

Related Articles

See More