Jakarta,FORTUNE – Standard Chartered Foundation menggelontorkan US$5 juta dalam program Oceans of Opportunity untuk menciptakan dan mendukung lapangan kerja dan peluang kewirausahaan bagi generasi muda di sektor ekonomi kelautan di ASEAN.
Managing Director, Head of Coverage, Standard Chartered Indonesia, Amit Verma, menjelaskan bahwa program keberlanjutan ini telah menjadi bagian dari strategi global Standard Chartered. Hal tersebut menjadi komitmen perusahaan dalam mencapai emisi bersih nol dari pembiayaan yang diberikan pada 2050 serta memobilisasi pembiayaan berkelanjutan senilai US$300 miliar pada 2030.
“Kami yakin ekonomi biru merupakan peluang besar untuk menyelaraskan pertumbuhan ekonomi, inklusi sosial, dan pengelolaan lingkungan,” kata Amit dalam ajang Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10).
Riset Oceans of Opportunity juga mencatat potensi besar Indonesia pada sektor rumput laut, akuakultur, industri pengolahan, keterlacakan produk, dan rantai pasok berkelanjutan. Untuk itu, IISF juga membahas bagaimana pembiayaan, inovasi industri, dan kolaborasi lintas sektor dapat menarik investasi di sektor kelautan dan pesisir, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, serta mendukung pelestarian lingkungan.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono mengajak sektor keuangan, investor, dunia usaha, untuk memperkuat kolaborasi dalam mempercepat investasi ekonomi biru. Hal ini untuk mendukung transformasi sektor kelautan dan perikanan Indonesia menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang modern, produktif, dan berkelanjutan.
Menurut Trenggono, ekonomi biru Indonesia tidak hanya menjadi agenda pelestarian lingkungan, tetapi juga strategi pembangunan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan ekspor, dan menarik investasi.
"Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, laut merupakan salah satu aset ekonomi terbesar yang dimiliki Indonesia. Ekonomi biru bukan hanya tentang melindungi sumber daya laut, tetapi juga tentang bagaimana mentransformasikannya menjadi nilai ekonomi jangka panjang bagi masyarakat," ujar Trenggono.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga tengah melaksanakan enam Program Prioritas Nasional, yaitu Program Kampung Nelayan Merah Putih, revitalisasi tambak Pantai Utara Jawa, pengembangan tambak udang terintegrasi, pengembangan budidaya perikanan berbasis desa, modernisasi armada perikanan nasional, serta swasembada garam nasional. Seluruh program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mentransformasi sektor kelautan dan perikanan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi yang berbasis investasi.
Ia mengapresiasi upaya Standard Chartered dan dukungannya terhadap pengembangan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu, Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, kolaborasi tersebut menunjukkan bagaimana pembiayaan strategis dapat mempercepat investasi ekonomi biru sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir.
Pihaknya juga mengundang lembaga keuangan dan investor untuk memperluas dukungan pembiayaan pada sektor akuakultur berkelanjutan, hilirisasi rumput laut, industri pengolahan hasil perikanan, serta pembangunan infrastruktur rantai dingin dan logistik kelautan.
Salah satu fokus utama transformasi ekonomi biru Indonesia adalah hilirisasi sektor kelautan dan perikanan. Indonesia perlu bergerak melampaui ekspor bahan baku menuju penciptaan nilai tambah melalui pengolahan, manufaktur, inovasi, dan penerapan teknologi.
Komoditas rumput laut, lanjut Trenggono, menjadi salah satu contoh nyata peluang tersebut. Apalagi, peluncuran Indonesia Seaweed Development Action Plan 2026–2030 oleh KKP bersama Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Perindustrian bisa menjadi peta jalan untuk mentransformasi sektor rumput laut Indonesia menjadi industri yang bernilai tambah tinggi, berdaya saing global, dan siap investasi.
