Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Wakil Ketua DEN: Perekonomian RI Masih Dibayangi Tantangan Internal
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI, Mari Elka Pangestu dalam acara Indonesia Summit 2025. (Dok. IDN Times)
  • Di antara tantangan itu adalah dominasi sektor informal dengan upah rendah.

  • Pengangguran terdidik masih tinggi, yakni sekitar 25 persen.

  • Keterbatasan ruang fiskal akibat rasio pajak rendah serta tekanan nilai tukar dari capital outflow diperkirakan membatasi stimulus dan pertumbuhan ekonomi 2026.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta,FORTUNE Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memberikan peringatan terkait sejumlah tantangan internal yang berpotensi menjadi risiko sistemik bagi perekonomian Indonesia pada 2026. Meskipun angka pengangguran melandai, kualitas lapangan kerja serta terbatasnya ruang gerak fiskal pemerintah menjadi perhatian utama.

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, menyoroti masalah struktural pertama terletak pada dominasi sektor informal. Meski pengangguran turun 4,74 persen dalam setahun (YoY) per November 2025, sekitar 80 persen lapangan kerja baru justru terserap pada sektor dengan upah rendah.

“Ini sekitar 80 persen dari penciptaan lapangan pekerjaan, itu semua di sektor informal yang rata-rata di bawah minimum wage. Seperti konstruksi, perdagangan, akomodasi, dan food and beverage,” kata Mari Elka dalam forum Outlook Ekonomi Tahun 2026 yang digelar secara virtual, dikutip Jumat (20/2).

Kondisi tersebut diperburuk oleh tingginya angka pengangguran terdidik yang mencapai 25 persen. Kelompok muda dan penduduk terdidik yang tidak terserap pasar kerja ini dinilai berpotensi memicu kesenjangan sosial pada masa mendatang.

Selain isu tenaga kerja, ketahanan fiskal pemerintah juga berada dalam posisi menantang. Mari menjelaskan rendahnya rasio pajak terhadap PDB—yang saat ini masih di bawah 10 persen—membatasi kemampuan pemerintah dalam mengguyur stimulus ekonomi.

Situasi ini makin runyam mengingat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap PDB. Angka ini hanya terpaut tipis dari batas aman 3 persen yang ditetapkan oleh UU Keuangan Negara.

“Mengharapkan fiskal sebagai stimulus untuk pertumbuhan [ekonomi] yang tidak terlalu tinggi di 2025. Dan kemungkinan besar [pertumbuhan ekonomi] di 2026 juga masih akan terbatas. Ini juga menjadi perhatian yang kita harus pantau,” ujarnya.

Dari sisi moneter, kewaspadaan perlu ditingkatkan terhadap potensi aliran modal keluar atau capital outflow yang menekan nilai tukar. Per hari ini (20/2), rupiah bernilai Rp16.903 terhadap dolar AS, atau melemah 9 poin (0,05 persen).

Sebagai perbandingan, perekonomian Indonesia sepanjang 2025 mengalami pertumbuhan 5,11 persen secara tahunan, melampaui capaian 2024 yang mencapai 5,03 persen.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh solidnya konsumsi rumah tangga, ekspansi industri pengolahan, serta performa ekspor-impor yang tetap terjaga. Kendati demikian, momentum ini terancam melambat jika berbagai tantangan internal di atas tidak segera ditangani secara taktis.

Editorial Team