Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Xendit: Metode Pembayaran Tak Cocok Bikin 51% Konsumen Enggan Belanja
Pexels/Nataliya Vaitkevich (belanja online)
  • Sebanyak 51% konsumen Indonesia membatalkan belanja online karena metode pembayaran pilihan tidak tersedia, tertinggi di Asia Tenggara menurut laporan Xendit dan Cube.
  • Dompet digital digunakan dalam sekitar 60% pembelian responden, sementara transaksi QRIS naik 142% sejak Januari 2025; penggunaan COD justru makin jarang.
  • Penjualan tiga e-commerce terbesar Asia Tenggara naik sekitar 33% pada kuartal I-2026, sementara konsumen makin memakai AI generatif untuk mencari dan membandingkan produk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Sebanyak 51 persen konsumen Indonesia membatalkan pembelian online dalam tiga bulan terakhir karena metode pembayaran yang mereka inginkan tidak tersedia. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara dalam laporan Xendit dan Cube bertajuk Ecommerce Payments Momentum Report 2026.

Laporan yang dirilis penyedia infrastruktur pembayaran Xendit bersama perusahaan intelijen pasar e-commerce Cube itu menggabungkan data transaksi Xendit dengan survei terhadap 6.000 konsumen di enam negara, termasuk 1.000 responden di Indonesia.

Presiden Xendit, Nazim Ali, mengatakan ketersediaan metode pembayaran menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keputusan konsumen dalam menyelesaikan transaksi. Menurutnya, konsumen Indonesia kini semakin meninggalkan pembayaran tunai. Pertanyaannya, apakah pelaku usaha mampu mengimbangi perubahan ini dengan menyediakan pilihan pembayaran yang sesuai?

"Laporan kami menunjukkan bahwa alasan utama konsumen membatalkan pembelian adalah tidak tersedianya metode pembayaran yang mereka inginkan,” ujarnya dalam keterangan pers, Kamis (16/10).

Ia menambahkan, kuncinya bukan sekadar menyediakan berbagai metode pembayaran, tetapi juga memahami tren penggunaan dan pertumbuhan metode pembayaran, serta peluang bisnis yang mengiringinya.

Di tengah perubahan perilaku tersebut, transaksi pembayaran digital real-time terus bertumbuh. Data Xendit menunjukkan, transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) meningkat 142 persen pada April 2026 dibandingkan Januari 2025. Pertumbuhan itu melampaui transaksi kartu kredit yang naik 83 persen dalam periode yang sama.

Transfer bank juga masih menjadi metode pembayaran penting. Berdasarkan survei tersebut, metode ini diperkirakan digunakan untuk 52 persendari total pembelian responden.

Dompet digital masih menjadi metode pembayaran yang paling banyak digunakan konsumen Indonesia, yakni dalam sekitar 60 persenpembelian responden. Sebanyak 70 persen responden bahkan mengandalkan dompet digital untuk setidaknya separuh transaksi mereka. Proporsi ini menjadi yang tertinggi di antara enam negara yang disurvei.

Pasar dompet digital Indonesia diisi sejumlah pemain utama, antara lain GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay, tanpa satu merek yang mendominasi.

Preferensi pembayaran juga berbeda menurut wilayah. Megatix, platform penjualan tiket yang menjadi mitra Xendit, mencatat konsumen di Jakarta lebih banyak menggunakan virtual account. Sementara itu, transaksi di Bali didominasi kartu pembayaran internasional.

Di sisi lain, penggunaan metode pembayaran tunai saat barang diterima (cash on delivery/COD) mulai berkurang. Sebanyak 40 persen responden Indonesia mengaku jauh lebih jarang menggunakan COD dibandingkan setahun sebelumnya. Angka tersebut merupakan yang tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Thailand, sebesar 45 persen.

Meski penggunaannya menurun, COD masih mencakup sekitar 40 persen dari total pembelian responden. Namun, kontribusinya terhadap nilai transaksi e-commerce relatif lebih rendah.

Laporan itu juga menemukan bahwa diskon dan cashback menjadi alasan utama konsumen di enam negara yang disurvei untuk beralih ke metode pembayaran lain. Faktor tersebut lebih berpengaruh dibandingkan kecepatan pengembalian dana maupun keamanan pembayaran.

Di lain sisi, kebutuhan terhadap beragam metode pembayaran muncul seiring peningkatan penjualan di platform e-commerce. Penjualan di Shopee, Lazada, dan TikTok Shop, tiga platform e-commerce terbesar di Asia Tenggara, meningkat sekitar 33 persen pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini terjadi setelah pertumbuhan melambat pada 2024.

Selain metode pembayaran, perubahan perilaku konsumen juga terlihat dalam proses pencarian produk. Di Asia Tenggara, sebanyak 53 persen konsumen menggunakan kecerdasan buatan generatif (AI generatif) untuk menemukan produk, sedangkan 78 persen memanfaatkannya untuk mencari informasi dan membandingkan produk sebelum membeli.

Angka penggunaan AI generatif untuk mencari informasi dan membandingkan produk tersebut melampaui mesin pencari, yang digunakan 74 persen konsumen, serta situs ulasan produk sebesar 72 persen.

Dalam laporan tersebut, Xendit juga menyoroti kebutuhan pelaku usaha untuk menghubungkan sistem pembayaran secara langsung ke jaringan pemrosesan transaksi (direct-to-rail). Pendekatan ini dinilai dapat meningkatkan visibilitas data transaksi, menyederhanakan rekonsiliasi dan pengembalian dana, serta membantu pengelolaan pembayaran dan mitigasi risiko penipuan.

QRIS juga telah mendukung pembayaran lintas negara melalui integrasi dengan PromptPay di Thailand dan DuitNow di Malaysia. Laporan itu memperkirakan sistem pembayaran real-time di Asia Tenggara akan semakin terhubung dalam jaringan regional pada 2027.

Curated For You

Editorial Team

Related Article