Jakarta, FORTUNE - Pariwisata Bhutan menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang 2025. Negara Himalaya tersebut mencatat 209.376 kunjungan wisatawan internasional tahun lalu, naik 44,3 persen dibandingkan 145.065 kunjungan pada 2024. Seiring pertumbuhan itu, Bhutan mulai memperluas pasar wisata premium internasional di luar India, termasuk membidik Asia Tenggara dan Indonesia sebagai pasar potensial luxury dan wellness travel.
Di tengah meningkatnya minat wisatawan Asia terhadap perjalanan berbasis pengalaman, wellness retreat, spiritual journey, dan slow travel, Bhutan juga mulai melihat Indonesia sebagai salah satu pasar potensial. Pertumbuhan wisatawan kelas menengah atas Indonesia serta tren wisata berkualitas dan berkelanjutan dinilai selaras dengan pendekatan pariwisata Bhutan.
Indonesia juga mulai masuk dalam radar ekspansi pasar wisata Bhutan di Asia Tenggara. Awal 2025, Departemen Pariwisata Bhutan bersama maskapai nasional Drukair menggelar promosi “Discover Bhutan” di Jakarta untuk memperkenalkan Bhutan sebagai destinasi premium kepada pelaku industri perjalanan dan wisatawan kelas atas Indonesia. Acara tersebut disebut dihadiri lebih dari 100 pelaku industri perjalanan.
Bhutan juga mulai memperkuat akses pasar melalui kehadiran agen perjalanan khusus seperti Druk Asia Indonesia yang menyediakan layanan perjalanan Bhutan dalam bahasa Indonesia dan menjadi perwakilan Drukair di pasar domestik. Langkah ini menunjukkan upaya Bhutan membangun kanal distribusi yang lebih spesifik untuk pasar Asia Tenggara.
Strategi berlanjut dengan rangkaian promosi internasional yang semakin agresif, termasuk peluncuran situs resmi Bhutan International Travel Mart (BITM) serta penyelenggaraan perdana ajang tersebut di Thimphu pada 11–13 Juni 2026. Bhutan memosisikan BITM sebagai bagian dari strategi memperkuat citra negara itu sebagai destinasi “High Value, Low Volume”, konsep pariwisata yang menekankan kualitas pengalaman, keberlanjutan, dan nilai ekonomi dibanding pariwisata massal.
Direktur Departemen Pariwisata Bhutan, Damcho Rinzin, mengatakan strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Bhutan memperluas keterlibatan global melalui Bhutan International Travel Mart (BITM), yang diselenggarakan bersama Departemen Pariwisata Bhutan, Kementerian Industri, Perdagangan dan Ketenagakerjaan, serta Asosiasi Operator Tur Bhutan (ABTO).
“Seiring berkembangnya pariwisata Bhutan yang berlandaskan pada prinsip ‘High Value, Low Volume’, platform seperti BITM menjadi semakin penting. BITM bukan sekadar pameran, melainkan pernyataan kepemimpinan Bhutan dalam menghadirkan era baru pariwisata yang penuh kesadaran (mindful), regeneratif, berkelanjutan, dan sangat transformatif di panggung dunia,” ujarnya, dalam keterangan pers, Selasa (12/5).
Ajang tersebut juga akan menyoroti Gelephu Mindfulness City (GMC), proyek visioner Bhutan yang diposisikan sebagai pusat mindful living dan penggerak pariwisata bernilai tinggi di masa depan. Damcho Rinzin, juga menekankan GMC menjadi salah satu fokus utama Bhutan dalam membangun masa depan pariwisata premium negara tersebut.
Menurutnya, ini merupakan investasi terukur bagi kesejahteraan Bhutan, sekaligus menjadi penggerak dinamis untuk mengubah minat dunia menjadi manfaat nyata bagi masyarakat Bhutan. Selain itu, memperkuat kemitraan, dan membangun hubungan bisnis yang bermakna, langsung di Bhutan.”
"Dengan menghadirkan para pembeli internasional paling berpengaruh langsung ke Bhutan, kami membuka peluang bisnis baru yang memastikan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan di dalam negeri,” katanya,
Ketua Asosiasi Operator Tur Bhutan (ABTO), Kinley Gyeltshen, mengatakan platform digital menjadi elemen penting dalam promosi pariwisata global Bhutan.
“Di era digital saat ini, tidak ada ajang pariwisata internasional yang dapat mencapai potensi penuhnya tanpa kehadiran secara daring yang kuat. Dengan hadir secara daring, kami membawa penawaran kami langsung ke hadapan para pelaku industri,” kata Kinley. BITM dinilai akan memberikan manfaat signifikan bagi industri pariwisata, khususnya para operator tur Bhutan.
Bhutan dikenal sebagai destinasi experiential luxury dan wellness tourism yang menawarkan pengalaman eksklusif berbasis alam, spiritualitas, dan budaya. Negara tersebut menawarkan trekking Himalaya, eco-tourism, wellness retreat, kunjungan biara kuno, hingga astro-tourism dan festival budaya seperti Black-Necked Crane Farewell Festival.
Bhutan menawarkan pengalaman perjalanan sepanjang tahun, mulai dari festival budaya di musim gugur, trekking Himalaya saat musim semi, hingga wellness dan spiritual retreat di tengah lanskap pegunungan yang lebih tenang pada musim dingin.
Untuk menjaga model wisata eksklusifnya, Bhutan menerapkan Sustainable Development Fee sebesar US$100 per malam bagi wisatawan internasional, di luar biaya visa US$40. Akses menuju Bhutan dilakukan melalui Bandara Internasional Paro yang dilayani Drukair dan Bhutan Airlines dengan penerbangan dari Bangkok, Singapura, Delhi, Kathmandu, Dhaka, hingga Dubai.
Dalam jangka panjang, Bhutan menargetkan dapat menarik sekitar 300.000 wisatawan pada 2027, mendekati level pra-pandemi tahun 2019 yang mencapai 315.599 wisatawan. Namun, Menteri Industri, Perdagangan, dan Ketenagakerjaan Bhutan, Namgyal Dorji, tahun lalu menyebut pemerintah ingin mencapai target 300.000 wisatawan tersebut lebih cepat, yakni pada 2026.
