Jakarta, FORTUNE - Beberapa tahun terakhir ini , kapal mewah menjadi panggung baru sejumlah jenama otomotif mewah dalam mengekspresikan identitas merek dan DNA masing-masing.
Mereka tidak saja melakukan diversifikasi produk, tapi juga menerapkan strategi membangun ekosistem gaya hidup serta semacam experiential luxury, yang lebih berfokus pada pengalaman konsumen ketimbang kepemilikan.
Meskipun begitu, sebagian besar jenama tidak membangun kapal sendiri, melainkan bermitra dengan galangan kapal profesional.
Market Research Future memperkirakan pasar kapal mewah tumbuh menjadi US$30,46 miliar pada 2035 dari US$18,63 miliar pada 2025, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 5,04 persen pada rentang 2025–2035.
Pasar bernilai puluhan miliar dolar ini ditopang oleh beragam faktor yang saling terkait. Pertumbuhan pariwisata mewah menjadi penggerak utama, seiring meningkatnya daya beli konsumen kelas atas dan menguatnya tren experiential luxury.
Aktivitas seperti yachting,sailing, hingga pelayaran eksklusif pun kian diminati sebagai simbol gaya hidup dan kebebasan. Pada saat bersamaan, kemajuan teknologi memainkan peran penting membentuk lanskap kapal mewah modern. Inovasi pada desain, material, dan sistem propulsi tidak hanya meningkatkan performa, tetapi juga efisiensi dan kenyamanan berlayar.
Minat yang kian besar terhadap olahraga air dan aktivitas rekreasi turut memperluas pasar kapal mewah, terutama di kalangan konsumen muda yang menggemari pengalaman petualangan— dari wakeboarding dan jet skiing hingga memancing di laut lepas.
Merespons dinamika tersebut, para produsen berlomba menghadirkan kapal yang tidak hanya menawarkan kemewahan, tapi juga performa tinggi dan fleksibilitas.
