Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Ilustrasi gerai jam tangan Rolex (unsplash.com/Zabardast)
Ilustrasi gerai jam tangan Rolex (unsplash.com/Zabardast)

Jakarta, FORTUNE - Pasar sekunder jam tangan mewah tengah memasuki fase krusial. Rolex, merek yang selama bertahun-tahun menjadi simbol investasi aman di dunia horologi, kini mendekati titik balik penting: harga rata-rata di pasar sekunder berpotensi turun di bawah harga ritel resmi.

Fenomena ini terjadi seiring kenaikan harga ritel Rolex pada Januari, yang secara signifikan mempersempit jarak antara harga jam tangan baru dan bekas. Berdasarkan data Morgan Stanley per 9 Januari 2026, retensi nilai (value retention/VR) Rolex turun 3,4 persen dibandingkan posisi 1 Oktober 2025, dan kini berada di level 6,7 persen.

Dengan kata lain, jam tangan Rolex secara rata-rata, masih dijual 6,7 persen lebih mahal dibandingkan harga ritel yang direkomendasikan. Namun, tren penurunan ini menandakan tekanan yang semakin besar di pasar sekunder, meski harga rata-rata Rolex bekas justru naik 4,6 persen pada kuartal IV 2025. Penurunan VR tersebut sepenuhnya dipicu oleh kenaikan harga ritel di dealer resmi.

Morgan Stanley menilai titik balik yang sangat signifikan ini dapat terjadi tahun ini, kecuali harga jam tangan bekas kembali menguat di tengah lonjakan harga jam tangan baru.

Melansir Watchpro, tekanan serupa juga dialami Audemars Piguet, yang kini berada di ambang batas dengan premi pasar sekunder hanya 0,7 persen. Sebaliknya, Patek Philippe masih memimpin dengan retensi nilai terkuat, mencatatkan premi 10,7 persen dibandingkan harga di dealer resmi.

Perubahan lanskap ini sekaligus menandai berakhirnya era flipping Rolex atau praktik jual-beli cepat demi meraup keuntungan besar, kecuali untuk model-model paling panas seperti Daytona berbahan baja. Meski secara statistik harga jam tangan bekas masih di atas ritel, konsumen yang menjual ke dealer profesional umumnya menerima harga jauh lebih rendah. Bahkan penjualan melalui skema konsinyasi pun berisiko merugi setelah dipotong biaya.

Dari seluruh merek yang dipantau Morgan Stanley menggunakan data WatchCharts, hanya tiga nama besar, yaitu Rolex, Patek Philippe, dan Audemars Piguet yang masih mencatatkan retensi nilai positif. Merek-merek independen bervolume rendah seperti Richard Mille, F.P. Journe, De Bethune, dan MB&F tidak termasuk dalam cakupan laporan.

Tahun 2025 sendiri menjadi fase konsolidasi bagi pasar sekunder jam tangan mewah. Penurunan harga yang dimulai sejak 2022 mulai melambat untuk sebagian besar merek, meski diskon besar masih mendominasi. Cartier, misalnya, masih dijual dengan diskon 30,9 persen, meski membaik dari posisi Oktober lalu. Omega didiskon 36,4 persen, IWC 40,4 persen, Tudor 40,6 persen, dan Vacheron Constapersentin 41,1 persen.

Di sisi lain, Patek Philippe mencatat performa terbaik sepanjang 2025 dengan kenaikan nilai 12,1 persen, memperkuat posisinya sebagai jam tangan dengan daya tahan nilai paling solid di industri.

Dinamika pasar sekunder Rolex kini juga semakin dipengaruhi oleh skema Certified Pre-Owned (CPO) yang dijual melalui jaringan dealer resmi. Morgan Stanley mencatat penjualan Rolex CPO mencapai US$530 juta sepanjang 2025, melonjak lebih dari 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, EveryWatch memperkirakan penjualan resmi Rolex CPO kini telah menyumbang lebih dari 10 persen dari total nilai pasar sekunder Rolex global.

Dengan perubahan struktur harga dan pergeseran perilaku pasar, jam tangan mewah khususnya Rolex, kian menjauh dari citra “mesin uang instan” dan bergerak kembali ke esensinya: produk luxury dengan nilai jangka panjang, bukan spekulasi cepat.

Editorial Team