Jakarta, FORTUNE -Memasuki awal tahun, sinyal penyesuaian harga dari Rolex kembali mencuat. Seperti yang telah lama diantisipasi para kolektor, rumah jam tangan asal Swiss itu resmi menaikkan harga ritel di berbagai pasar utama dunia. Daftar harga terbaru menunjukkan perubahan yang tak bisa diabaikan. Dibandingkan dengan banderol pada penghujung tahun lalu, sejumlah model ikonis Rolex kini dipasarkan dengan harga lebih tinggi
Melansir Wristler, kenaikan harga yang telah dikonfirmasi berada di kisaran 2,5 persen hingga hampir 6 persen, bergantung pada model dan material. Angka ini lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Menilik data historis, penyesuaian harga Rolex biasanya berada di kisaran 3–4 persen setiap kali kenaikan. Namun tahun ini, skalanya terasa lebih agresif. Setelah satu kali penyesuaian harga yang telah diterapkan lebih awal tahun lalu, pembaruan Januari ini melengkapi tren kenaikan berkelanjutan harga ritel Rolex sepanjang setahun terakhir.
Apa artinya bagi calon pembeli? Harga baru menjadi penanda arah pasar. Rolex kembali menegaskan bahwa harga ritelnya bergerak naik secara struktural dari tahun ke tahun, bukan sekadar penyesuaian sesaat. Kenaikan ini juga memperlihatkan penyempitan jarak harga antara model baja dan varian berbahan logam mulia, memperkuat posisi jam tangan baja sebagai produk luxury, bukan lagi “entry level”.
Di sisi lain, lonjakan harga tidak serta-merta diikuti oleh membaiknya ketersediaan di jaringan Authorized Dealer (AD). Daftar tunggu panjang masih menjadi realitas, terutama untuk model-model populer. Dalam konteks ini, pasar grey market tetap memainkan peran penting bagi pembeli yang mengutamakan ketersediaan instan, meski harus membayar di atas harga ritel resmi.
Pengalaman tahun-tahun sebelumnya juga menunjukkan satu pola yang konsisten: setelah Rolex mengumumkan kenaikan harga resmi, banderol di grey market cenderung ikut menyesuaikan. Artinya, penundaan pembelian dengan harapan harga turun sering kali justru berujung pada biaya yang lebih tinggi. Dengan ketersediaan terbatas, daftar tunggu panjang, dan kenaikan harga yang nyaris menjadi agenda tahunan, mungkin menunda pembelian bukanlah strategi ideal jika mengejar nilai terbaik. Harga di pasar sekunder biasanya menyesuaikan tak lama setelah harga resmi naik, serta membuat harga hari ini terlihat lebih menarik di kemudian hari.
Berdasarkan daftar harga resmi, kenaikan terjadi di hampir seluruh lini, baik model baja maupun logam mulia. Model berbahan logam berharga biasanya mendapatkan kenaikan yang lebih tinggi, sebagai bagian dari strategi menguatkan nilai barang mewah dan eksklusivitasnya di pasar global. Analisis WatchPro pada 1 Januari mengungkapkan bahwa kenaikan harga Rolex di awal tahun untuk Inggris rata-rata sekitar 5 persen. Adapun kenaikan harga rata-rata sebesar 5 persen di Inggris jauh lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan sebesar 7 persen di Amerika Serikat. Harga rata-rata jam tangan Rolex emas di Inggris telah naik sebesar 6,5 persen, sementara jam tangan baja naik sebesar 4,1 persen.
Tak hanya Rolex, sejumlah pembuat jam Swiss juga menaikkan harga. Melansir WatchPro, pergerakan harga di Inggris dan Amerika Serikat untuk Rolex, Tudor, dan Audemars Piguet tercatat mengalami lonjakan. Sementara itu, harga jam tangan dari Patek Philippe, Omega, Breitling, Cartier, TAG Heuer, IWC, dan Vacheron Constantin terpantau belum mengalami perubahan.
Tudor menaikkan harga jam tangannya untuk 2026 dengan rata-rata kenaikan sekitar 5,6 persen di Amerika Serikat. Menariknya, kenaikan di Inggris justru sedikit lebih tinggi, juga 5,6 persen. Meski Tudor jarang merilis jam tangan full gold version, Black Bay 58 versi gold mengalami kenaikan harga yang cukup besar. Di Inggris, harganya naik 7,7 persen menjadi £30.980. Sementara di Amerika Serikat, model yang sama naik 7,9 persen menjadi US$39.400, belum termasuk pajak.
Sementara itu, Audemars Piguet juga menaikkan harga dengan pola yang mirip Rolex. Di Amerika Serikat, harga rata-rata naik sekitar 7,5 persen untuk model-model yang dipantau WatchPro. Di Inggris, kenaikannya lebih ringan, sekitar 2,5 persen. Bagi calon pembeli yang menunda hingga Januari 2026, satu hal menjadi jelas: harga yang harus dibayar kini lebih mahal.
