Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Konten Budaya Masuk FYP, Kreator Lokal Bangun Nilai Ekonomi Baru
Aulia selaku Edukator Museum Tekstil Jakarta ditemani oleh dua kreator TikTok Alma Al Farisi (@almahello) dan Asep Roman Muhtar (@romannuansa) memandu rekan-rekan media menjelajahi pameran tenun di Gedung Pameran Temporer di Museum Tekstil Jakarta/Dok. TikTok Indonesia

Jakarta, FORTUNE - Konten budaya mulai dari sejarah hingga wastra kini tidak lagi sekadar ruang edukasi alternatif di media sosial. Di tengah berkembangnya creator economy, tema budaya justru mulai tumbuh menjadi sumber nilai ekonomi baru yang menghubungkan edukasi, identitas lokal, hingga peluang bisnis digital lintas industri.

Fenomena itu terlihat dari meningkatnya minat pengguna TikTok terhadap konten museum, sejarah, hingga budaya lokal. TikTok mencatat dua dari lima pengguna global tertarik pada topik sejarah, sementara unggahan dengan tagar #MuseumTok tumbuh hingga 48 persen setiap tahun.

Di Indonesia, tren tersebut berkembang seiring munculnya kreator yang mengemas cerita budaya dengan pendekatan lebih personal, visual, dan dekat dengan keseharian generasi muda. Mulai dari cerita di balik artefak museum, sejarah tokoh Indonesia, hingga pembahasan kebaya dan wastra tradisional, konten budaya kini hadir dalam format yang lebih ringan dan mudah dipahami.

Perkembangan ini juga terjadi di tengah perubahan lanskap creator economy nasional. Studi “The Art & Science of Authenticity” dari Accenture Song memperkirakan kreator Indonesia akan berkontribusi hingga US$376 miliar terhadap dampak komersial nasional pada 2030. Nilai tersebut menjadikan Indonesia sebagai pasar creator economy terbesar di Asia Pasifik dari sisi dampak ekonomi sekaligus pertumbuhan tercepat kedua di kawasan.

“Para kreator bukan hanya menjadi suara budaya, tapi juga pencipta nilai ekonomi yang nyata,” ujar September Guo, Managing Director Accenture Song Southeast Asia, kepada Fortune Indonesia, dikutip Kamis (21/5).

Menurut riset tersebut, faktor terbesar yang mendorong creator economy adalah autentisitas. Sebanyak 81 persen konsumen Indonesia mengaku terdorong membeli karena konten yang terasa autentik, sementara 87 persen mengatakan konten autentik membuat mereka mengambil tindakan terhadap sebuah brand. “Autentisitas bukan sekadar gaya, tapi menjadi strategi bisnis,” kata Guo, menambahkan.

Namun di tengah peluang monetisasi tersebut, sejumlah kreator budaya justru melihat media sosial bukan hanya sebagai sumber pendapatan, melainkan ruang edukasi untuk menjaga budaya tetap relevan di era digital.

Salah satunya adalah kreator TikTok Alma Al Farisi yang mengangkat sejarah, kebaya, dan identitas budaya melalui gaya storytelling personal. Kreator dengan lebih dari 60 ribu pengikut dan 4,4 juta likes di TikTok itu menghadirkan narasi budaya dalam bahasa Inggris agar lebih mudah menjangkau audiens global.

Melalui kontennya, Alma menghubungkan fesyen dengan sejarah, identitas perempuan Indonesia, hingga warisan budaya yang dekat dengan kehidupan modern. Pendekatan bertutur yang ringan membuat topik budaya yang sebelumnya dianggap niche menjadi lebih mudah diterima audiens muda.

Hal serupa dilakukan Asep Roman Muhtar atau Roman yang dikenal lewat konten wastra dan tekstil tradisional Indonesia. Dengan lebih dari 54 ribu pengikut dan 2,1 juta likes, Roman menggabungkan visual modern, storytelling sejarah, hingga inspirasi mix-and-match busana tradisional dengan gaya masa kini.

Menurut Roman, strategi terpenting dalam membuat konten budaya adalah menjaga relevansi agar budaya tidak terasa jauh dari generasi muda.

“Tipsnya adalah mulai saja dulu, karena budaya itu harus diwariskan. Kalau tidak enggak mencoba styling, maka kita tidak bisa meneruskan. Kita anak muda juga harus mencoba untuk gimana caranya budaya harus bisa relevan untuk saat ini,” ujarnya, di sela-sela kunjungan ke Museum Tekstil di Jakarta dalam rangkaian perayaan Hari Museum Internasional bersama TikTok, Kamis (21/5).

Ia menilai konten budaya tidak harus selalu tampil formal. Visual yang menarik, gaya penyampaian ringan, hingga penggabungan budaya dengan lifestyle modern justru menjadi cara efektif menarik audiens baru.

Roman juga mulai mengembangkan strategi untuk menjangkau audiens internasional, salah satunya dengan penggunaan subtitle bahasa Inggris dan hashtag global. “Budaya sangat menarik dan jadi daya tarik potensial untuk audiens luar. Jadi kalau orang luar negeri mau datang ke Indonesia, mereka bisa belajar atau explore dari situ,” katanya.

Menurut dia, creator economy budaya juga mulai membuka peluang kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan brand global nonbudaya seperti otomotif, fashion, dan lainnya. Roman mencontohkan kolaborasinya dengan BYD yang mencoba menghubungkan nilai heritage batik dengan positioning produk modern. “Mereka pengen memposisikan brand-nya sebagai sesuatu yang art atau masterpiece juga, sama seperti batik,” ujarnya.

Memberi dampak ke industri kreatif

Dok. TikTok

Meski creator economy identik dengan monetisasi, Roman mengaku fokus utamanya tetap pada edukasi budaya. Ia menilai konten budaya juga memiliki dampak ekonomi yang lebih luas karena ikut mendukung pengrajin lokal dan industri kreatif tradisional.

“Mendukung ekonomi salah satunya bisa dengan mempublikasikan. Misalnya, saat saya berkunjung ke daerah dan bikin video agar para pengrajin biar bisa dibeli hasil karyanya. Ada edukasi juga bahwa live streaming bisa jadi jalan membuka pelanggan baru,” ujarnya.

Di sisi lain, museum dan institusi budaya kini juga mulai beradaptasi dengan perubahan perilaku audiens digital. TikTok melalui laporan “Museum Insights Report 2026” menyebut kreator kini berperan sebagai “kurator baru” yang membantu generasi muda mengenal sejarah dan budaya melalui pendekatan yang lebih relevan.

Laporan tersebut mencatat lebih dari satu dari tiga pengguna TikTok di Indonesia tertarik pada museum, sementara lebih dari separuh pengguna (51 persen) tertarik pada sejarah. Selan itu, di TikTok, setiap museum dapat menemukan audiensnya: TikTok memberi peluang bagi setiap museum untuk membangun komunitas penggemar setia, termasuk museum dengan tema yang sangat unik sekalipun, misalnya Disgusting Food Museum, Ice Cream Museum, Trap Music Museum, dan The Bone Museum termasuk di antara museum yang paling banyak dicari. Platform ini menunjukkan bahwa budaya pop, humor, storytelling autentik, dan pendekatan visual menjadi pintu masuk baru bagi museum untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

“Pertumbuhan #MuseumTok juga membuktikan bahwa ketika museum hadir di ruang digital tempat orang sudah aktif berinteraksi, audiens baru pun ikut terhubung,” ujar ujar Karen Kang, Culture and Education Partnerships Lead, TikTok.

Transformasi tersebut juga terlihat dari berkembangnya museum virtual dan siaran LIVE budaya di platform digital. Dalam setahun terakhir, sejumlah museum global seperti The Metropolitan Museum of Art (MoMA) di New York hingga Grand Egyptian Museum di Mesir memanfaatkan TikTok LIVE untuk menghadirkan tur virtual dan konten edukasi yang menjangkau hampir lima juta penonton global.

Di Indonesia, TikTok turut menggandeng Museum Tekstil Jakarta bersama kreator lokal untuk memperkenalkan sejarah wastra Indonesia kepada generasi muda melalui tur museum dan konten digital.

Fenomena ini menunjukkan creator economy tidak lagi hanya berkaitan dengan hiburan atau promosi brand, tetapi mulai berkembang menjadi infrastruktur baru distribusi budaya. Konten kreator kini berperan memperluas akses publik terhadap sejarah dan warisan budaya sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru di era digital.

Editorial Team