Jakarta, FORTUNE - Gelombang peluncuran token kripto dalam beberapa tahun terakhir tidak selalu berakhir sukses. Sejumlah analis menilai banyak proyek gagal karena strategi peluncuran yang sudah tidak lagi sesuai dengan dinamika pasar saat ini.
Peneliti dari 21Shares, Darius Moukhtarzade, menilai pendekatan lama dalam merilis token kripto tidak lagi relevan untuk kondisi pasar pada 2025.
Menurutnya, model peluncuran yang mengandalkan valuasi tinggi atau fully diluted valuation (FDV) dengan jumlah token beredar yang terbatas, ditambah konsep token tata kelola yang sering kali menyerupai “meme coin”, kini semakin sulit diterima pasar.
Melansir CryptoPotato, ia menjelaskan bahwa kegagalan banyak peluncuran token berakar pada ketidaksesuaian antara sentimen pasar dan fundamental proyek.
Di satu sisi, fondasi industri kripto sebenarnya masih cukup kuat. Hal ini tercermin dari meningkatnya jumlah pengguna global, regulasi yang mulai lebih jelas, partisipasi institusi yang terus bertambah, serta infrastruktur yang semakin siap untuk mendukung adopsi jangka panjang.
Namun di sisi lain, sentimen pasar justru berada dalam kondisi negatif. Tingkat ketakutan investor masih tinggi, berbagai acara peluncuran token atau token generation event (TGE) berulang kali gagal memenuhi ekspektasi, sementara jumlah token yang terus bertambah memicu dilusi modal di pasar.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Moukhtarzade mengusulkan pendekatan baru dalam merancang token. Ia menilai desain token seharusnya memberikan insentif bagi pengguna untuk menyimpan token dalam jangka panjang, bukan justru mendorong mereka menjualnya secepat mungkin.
Menurutnya, banyak model token saat ini justru memicu situasi yang ia sebut sebagai “perlombaan untuk keluar”, di mana para pemegang token berusaha menjual lebih dulu guna menghindari kerugian.
Sebagai solusi, ia mendorong adanya penyelarasan kepentingan antara tim proyek, investor, dan pengguna agar seluruh pihak dapat menikmati manfaat dari pertumbuhan nilai yang berkelanjutan.
Selain itu, nilai token sebaiknya dikaitkan dengan fundamental nyata, seperti pendapatan proyek, bukan semata-mata bergantung pada hype pasar. Nilai tersebut juga idealnya didistribusikan langsung kepada pemegang token, misalnya melalui skema bagi hasil.
Dengan pendekatan tersebut, kepemilikan token dapat diposisikan sebagai bentuk partisipasi dalam pertumbuhan ekosistem, di mana semakin lama token disimpan, semakin besar pula kontribusi dan imbalannya.
