Jakarta, FORTUNE - PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia) menggandeng Bank DBS indonesia melncurkan produk reksadana syariah dalam mata uang dolar AS, yakni Batavia Gold Sharia Equity USD (BAGOS).
Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi, mengatakan bahwa dana kelolaan yang terkumpul akan dialokasikan ke saham perusahaan di sektor emas, tanpa berinvestasi secara langsung pada emas fisik.
"Permintaan dari bank sentral terhadap emas masih akan cukup tinggi ke depannya. Terus kebutuhan diversifikasi aset terhadap USD menurut kami akan tetap membuat permintaan masih itu tinggi," kata dia dalam peluncuran Batavia Gold Sharia Equity USD di Jakarta, Rabu (30/9).
Ia menambahkan, investasi ini berbeda dengan ETF karena underlying asetnya bukan emas atau bullion, melainkan reksadana yang diinvestasikan di perusahaan tambang emas melalui saham USD.
Portofolio reksa dana ini mencakup sekitar 56 perusahaan global yang dipilih melalui proses investasi yang disiplin dan berbasis fundamental, mencakup kualitas manajemen, kesehatan finansial perusahaan, tren pertumbuhan, serta pengelolaan risiko yang ketat
Batavia Gold Sharia Equity USD dapat diakses melalui Bank DBS Indonesia dengan pembelian pertama kali minimum US$10.000.
Sebelumnya, perusahaan membidik dana kelolaan alias asset under management (AUM) sebanyak US$10 juta. Kini setelah diluncurkan, AUM yang terkumpul telah menembus angka tersebut.
"Untuk target peluncuran sendiri, pada peluncuran kemarin kami target (AUM) di atas US$ 10 juta di hari pertama . Dan telah terkumpul lebih dari US$ 10 juta di hari pertama itu," ujar dia.
Sementara untuk akhir tahun, Batavia Prosperindo AM menargetkan kenaikan dana kelolaan dari produk BAGOS ini sebesar dua kali lipat dari posisi peluncuran.
DI sisi lain, DBS Bank menilai saham sektor emas dan komoditas tetap berperan strategis dalam portofolio pasar Q4 2026. Menurut Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia, Boy Suhendry kondisi gejolak geopolitik dan ekonomi saat ini dapat memberikan ruang bagi investor mendiversifikasikan portfolionya.
"Banyak dari nasabah kami memang sebagian besar itu punya aset USD. Jadi kami coba bwrikan alternatif investasi karena selama ini kami punya obligasi pemerintah dalam USD, reksadana yang basisnya USD," kata Boy.
Melalui aplikasi digital DBS, nasabah juga bisa memperoleh strategi investasi dari para wealth specialist Bank DBS Indonesia untuk membangun portofolio yang terdiversifikasi dan sesuai dengan profil risiko serta tujuan investasi masing-masing.
