Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Ilustrasi kantor PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). (Dok. Unilever Indonesia)
Ilustrasi kantor PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). (Dok. Unilever Indonesia)

Jakarta, FORTUNE - PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melepas bisnis Sariwangi ke Grup Djarum baru-baru ini, tak lama setelah spin-off bisnis es krim. Lantas, setelah 2 aksi korporasi krusial itu, bagaimana prospek kinerja dan dividen dari perusahaan sektor consumer tersebut?

Analis PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan, memangkas proyeksi pendapatan UNVR sebesar 2,3 persen pada 2026 menjadi Rp33,5 triliun, selepas aksi divestasi Sariwangi yang akan dicatat pada laporan keuangan kuartal-I 2026.

Kendati demikian, setelah langkah itu, IPOT memperkirakan adanya pemberian dividen khusus sebesar Rp828 miliar atau imbal hasil 0,8 persen. "Namun, sentimen mungkin negatif karena kelipatan divestasi berada di bawah valuasi UNVR saat ini, yaitu 24,0 kali P/E [price to earning]," kata Andrianto dan Nicholas dalam risetnya.

IPOT menetapkan target harga Rp1.950 untuk UNVR, lebih rendah 25 persen dari harga UNVR pada akhir perdagangan Selasa, Rp2.600.

Sebagai konteks, Unilever melepas Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa milik Grup Djarum dengan nilai transaksi Rp1,5 triliun. Transaksi diharapkan selesai pada 2 Maret 2026.

Berdasarkan nilai itu, maka rasio P/E mencapai 10,9 kali (2025), dibanginkan P/E sektoral di 12,3 kali (2026). Dus, IPOT menilai valuasi itu menjadi wajar.

Lebih lanjut, divestasi tersebut disebut sejalan dengan strategi Unilever Global untuk fokus pada segmen home and personal care (HPC). Sebab, segmen itu bertumbuh lebih cepat dengan margin lebih tinggi dibandingkan segmen makanan dan minuman.

"Dengan demikian, kami melihat potensi divestasi lebih lanjut di bisnis makanan dan minuman ringan UNVR," kata Andrianto dan Nicholas.

Segmen makanan dan minuman ringan berkontribusi sebesar 36,5 persen terhadap penjualan UNVR pada Januari-September 2025. Sebelumnya, spin-off bisnis es krim perseroan juga diproyeksikan menekan pendapatan dan laba bersih sebesar sekitar 10 persen.

Senada dengan IPOT, BNI Sekuritas memperkirakan kontribusi segmen makanan dan minuman UNVR akan berkurang menjadi sekitar 27 persen setelah adanya divestasi Sariwangi dan spin-off bisnis es krim.

BNI Sekuritas mencatat, per 9 bulan pertama 2025, Sariwangi berkontribusi sekitar 2,5 persen dari aset; 2,7 persen dari pendapatan; dan 3,1 persen dari laba bersih UNVR. Itu mengimplikasikan valuasi sekitar 11 kali P/E, jauh di bawah milik UNVR yang mencapai 25 kali P/E.

"Memang ada dampaknya, tapi memang mungkin tidak terlalu signifikan," kata Retail Research Analyst at BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana, dikutip Selasa.

Selain itu, sebelumnya, imbal hasil dividen UNVR diproyeksi bisa melampaui 7 persen pada 2026, dengan asumsi rasio pembayaran 100 persen. Dengan dividen khusus yang didapat dari penjualan Sariwangi, estimasi imbal hasil itu berpotensi naik menjadi sekitar 8 persen.

"Bisa kurang, bisa lebih. Tergantung dari Unilever," ujar Lutfi. "Berdasarkan transaksi sebelumnya, dividen khusus umumnya dibayarkan 4-10 bulan setelah transaksi ditutup."

Editorial Team