Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Ilustrasi Bitcoin
Ilustrasi Bitcoin (pexels.com/ Worldspectrum)

Jakarta, FORTUNE - Bitcoin menguat dalam 24 jam terakhir seiring membaiknya sentimen risiko global setelah tensi Amerika Serikat dan Eropa terkait Greenland mereda. Meski rebound terjadi, pelaku pasar masih menunggu konfirmasi lanjutan dengan level US$92.000 atau sekitar Rp1,55 miliar sebagai area teknikal yang dinilai krusial.

Pada perdagangan terbaru, Kamis (22/1), harga Bitcoin naik sekitar 0,55 persen ke level US$89.806 atau sekitar Rp1,5 miliar dalam 24 jam terakhir, memantul setelah terkoreksi 6,38 persensecara mingguan. Sejumlah faktor pendorong menguatnya harga Bitcoin kali ini antara lain akumulasi whale saat harga turun di bawah US$90.000 atau kisaran Rp1,521 miliar, meredanya tekanan geopolitik AS–Eropa, serta bertahannya harga di area support teknikal kunci.

Dari sisi on-chain, aktivitas pembelian oleh whale menjadi sorotan utama. Data menunjukkan alamat dompet dengan kepemilikan minimal 1.000 BTC menambah kepemilikan saat harga jatuh di bawah US$90.000, sementara investor ritel cenderung melakukan aksi jual.

Pola divergensi ini kerap terjadi menjelang fase rebound, karena pembelian pelaku besar menyerap tekanan jual yang muncul dari panic selling ritel.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai akumulasi whale memberikan sinyal kepercayaan terhadap prospek Bitcoin, meskipun volatilitas jangka pendek masih tinggi.

“Ketika whale aktif membeli di bawah US$90.000, itu biasanya mengindikasikan area tersebut dianggap menarik untuk akumulasi. Namun rebound ini masih perlu konfirmasi lanjutan karena tekanan dari sisi makro dan arus dana institusional belum sepenuhnya mereda,” ujarnya dalam keterangan kepada Fortune Indonesia, Kamis (22/1).

Sentimen pasar juga didukung faktor geopolitik. Meredanya tensi AS–Eropa terkait Greenland, termasuk penundaan ancaman tarif dan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer, ikut mendorong risk appetite kembali membaik. Indeks Fear & Greed kripto ikut naik tipis ke level 34 dari sebelumnya 32, meski masih berada di area fear. Bitcoin Tertahan di Level Support Sementara dari sisi teknikal, Bitcoin dinilai berhasil bertahan di area support penting berdasarkan Fibonacci retracement, meskipun indikator momentum masih cenderung bearish. Di saat yang sama, Bitcoin menghadapi resistensi jangka pendek di area rata-rata pergerakan 7 hari (7-day SMA) sekitar US$92.864.

“Area US$92.000–93.000 menjadi level kunci. Jika Bitcoin mampu reclaim dan bertahan di atas area ini, peluang invalidasi tren turun jangka pendek akan lebih besar,” kata Fyqieh.

Namun penguatan Bitcoin masih dibatasi beberapa faktor penahan. Salah satunya adalah tekanan dari arus keluar ETF Bitcoin yang mencapai sekitar US$707,3 juta pada 21 Januari, serta hambatan teknikal lebih besar di area 200-day SMA sekitar US$105.541 yang masih jauh dari harga saat ini.

Bitcoin juga masih berada sekitar 18 persen di bawah rekor tertinggi (ATH) Oktober 2025 di US$109.309, mencerminkan adanya kehati-hatian pasar terhadap risiko makro yang belum sepenuhnya hilang. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati apakah akumulasi whale berlanjut dan apakah terjadi spot exchange outflows yang konsisten sebagai sinyal suplai yang semakin ketat. Selain itu dari pasar global, sentimen positif datang dari pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang memuji penasihat ekonominya, Kevin Hassett.

“Hal ini dinilai meredakan kekhawatiran pasar karena menutup potensi Hassett menjadi Ketua The Fed. Hassett sebelumnya dipandang sebagai figur yang paling tidak independen dan cenderung dovish, sejalan dengan keinginan Trump untuk memangkas suku bunga secara agresif,” ujarnya.

Meskipun demikian, sentimen positif tersebut tertahan oleh data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed mundur hingga sekitar Juni 2026, meski pelaku pasar masih memperkirakan adanya dua kali penurunan suku bunga sepanjang tahun ini.

Editorial Team