Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Analis Ramal Bitcoin Naik hingga 55% pada 2026

ilustrasi crypto bitcoin
ilustrasi crypto bitcoin (pexels.com/Alesia Kozik)

Jakarta, FORTUNE - Kepala Riset Aset Digital Standard Chartered, Geoffrey Kendrick, memangkas proyeksi harga bitcoin (BTC) untuk 2026. Meski demikian, ia tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek jangka menengah aset kripto terbesar di dunia tersebut. Melansir Yahoo Finance, Geoffrey Kendrick menilai bitcoin masih berpotensi mencatatkan penguatan signifikan dan tetap layak dipertimbangkan sebagai aset investasi, meskipun target harga jangka panjangnya telah direvisi turun. Menurutnya, prospek kenaikan harga masih terbuka lebar di tengah perubahan lanskap pasar kripto.

Kendrick menyebut bitcoin berpeluang melonjak hingga 55 persen pada 2026. Pada Desember 2025, ia memangkas proyeksi harga bitcoin tahun 2026 dari sebelumnya US$300.000 menjadi US$150.000 per koin.

Salah satu tren yang sempat mendominasi pasar kripto adalah Digital Asset Treasuries (DAT), yakni strategi perusahaan memanfaatkan neraca keuangan untuk mengoleksi bitcoin. Tren ini mencuat setelah Strategy, perusahaan milik Michael Saylor, mulai mengakumulasi bitcoin sejak 2020. Strategy kemudian menghimpun dana miliaran dolar AS melalui penerbitan obligasi untuk memperbesar kepemilikan bitcoin, langkah yang mendorong sejumlah perusahaan lain mengikuti strategi serupa.

Namun, Kendrick menilai daya tarik DAT kini mulai memudar. “Secara spesifik, kami pikir pembelian oleh perusahaan perbendaharaan aset digital bitcoin kemungkinan sudah berakhir, karena valuasi tidak lagi mendukung ekspansi DAT bitcoin lebih lanjut,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya lebih melihat potensi konsolidasi dibandingkan aksi jual besar-besaran. Namun, strategi pembelian DAT dinilai tidak lagi menjadi penopang utama harga bitcoin ke depan.

Walaupun demikian, ia tetap optimistis terhadap potensi kenaikan lanjutan yang dipicu oleh meningkatnya minat pada exchange traded fund (ETF) bitcoin spot. Ia menilai kehadiran ETF ini secara signifikan menurunkan hambatan bagi investor institusional untuk masuk ke pasar kripto. Menurutnya, tren tersebut berpeluang menguat di bawah pemerintahan Donald Trump, yang dinilai mendukung sejumlah regulasi dan perintah eksekutif pro-kripto guna mengurangi ketidakpastian hukum bagi investor.

Data menunjukkan, pada 13 Januari lalu, ETF bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus masuk harian sebesar US$753,73 juta atau sekitar Rp12,77 triliun, tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Menilik tahun 2025, Bitcoin menunjukkan performa solid hingga menyentuh level US$102.000 pada awal Januari, bertepatan dengan pelantikan Donald Trump sebagai presiden. Setelah itu, harga bitcoin bergerak fluktuatif di kisaran US$98.000 hingga US$104.000, sebelum merosot ke level US$76.000 pada April. Pemulihan kemudian berlangsung secara bertahap hingga mencapai puncak mendekati US$126.000 pada Oktober. Namun, penurunan tajam berikutnya menghapus sebagian besar kenaikan dua digit tersebut.

Pada akhir tahun lalu, harga bitcoin bergerak di rentang US$86.000 hingga US$94.000, bahkan berada di bawah proyeksi paling konservatif. Memasuki 2026, tren pemulihan berlanjut dengan bitcoin sempat menyentuh US$97.538 pada 15 Januari, sebelum kembali melemah. Sebelumnya, bitcoin sempat turun 2,1 persen ke level US$93.216 di tengah kekhawatiran pasar atas ancaman tarif baru dari Trump, kali ini diarahkan kepada sekutu Eropa terkait apa yang ia sebut sebagai “kesepakatan Greenland.”

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Market

See More

Analis Ramal Bitcoin Naik hingga 55% pada 2026

21 Jan 2026, 14:47 WIBMarket