Volatilitas Pasar Naik, Sektor Saham Komoditas-Konsumer Jadi Penopang

Jakarta, FORTUNE - Di tengah peningkatan volatilitas pasar saham akibat risiko geopolitik global, Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan sektor komoditas menjadi penopang laju pasar domestik.
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran telah mendorong kenaikan harga minyak global dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan. Harga minyak Brent telah melampaui US$100 per barel, naik sekitar 35 persen dalam sepekan di tengah risiko gangguan pasokan energi global.
"Level harga minyak saat ini mencerminkan premi risiko geopolitik yang besar. Jika gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama, harga minyak akan berada di atas level US$100 per barel dalam waktu yang lebih lama," kata Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, Selasa (10/3).
Menurutnya, hal tersebut berisiko meningkatkan tekanan inflasi global, mempersempit ruang pelonggaran moneter, dan memicu risiko stagflasi. Lebih lanjut, harga minyak yang naik terlalu cepat pun dinilai dapat menahan proses penurunan suku bunga global dan menekan pasar saham, termasuk emerging markets (EM) seperti Indonesia.
Apalagi, di tengah ketidakpastian buntut keputusan MSCI terhadap saham-saham Indonesia pada akhir Januari 2026. Ditambah lagi dengan penilaian dari lembaga rating internasional seperti Moody's dan Fitch Ratings.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah melemah 15,21 persen ke level 7.417,46 sepanjang perdagangan 2026. Mirae Asset Sekuritas juga mencatat, tekanan pasar juga dipengaruhi oleh arus keluar dana asing yang terus berlanjut, dengan besaran Rp263 miliar.
"Memang pada saat ini, bisa dibilang pasar kita sedang dihadapkan dengan adanya triple threats. Ketidakjelasan, ancaman bisa dibilang, dari MSCI, rating dari Moody's dan Fitch di kuartal-I 2026. Memang katalis pada saat ini, terutama pasar ekuitas, tertuju pada hasil keputusan MSCI pada April atau Mei. Jika ada kejelasan, itu dapat menjadi katalis positif bagi pasar," kata Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Farras Farhan.
Di tengah volatilitas tersebut, ia menilai, sektor komoditas berpotensi menjadi salah satu penopang pasar saham domestik. Mengapa demikian? Karena sektor tersebut cenderung memiliki arus kas yang kuat dan masih didukung oleh permintaan global.
Saham-saham seperti ITMG, PTBA, dan BRMS pun masih mencatatkan minat beli investor asing. Dari segi fundamental, ITMG misalnya, membukukan pendapatan senilai US$512 juta pada kuartal-IV 2025. Itu didukung oleh kenaikan volume penjualan menjadi 6,8 juta ton serta peningkatan harga jual rata-rata menjadi US$75 per ton.
“Kinerja ITMG menunjukkan bahwa disiplin biaya dan efisiensi operasional dapat membantu perusahaan mempertahankan profitabilitas meskipun harga batu bara sedang berada dalam fase penurunan,” ujar Farras.
Selain sektor komoditas, ia pun menyoroti sektor-sektor terkait konsumsi domestik seperti ritel, makanan dan minuman, serta transportasi. Katalisnya adalah periode idulfitri yang akan jatuh pada pekan depan.
Saham konsumer seperti CMRY dan MYOR dinilai dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi investor seiring potensi peningkatan permintaan menjelang Lebaran.
Selain itu, pasar saham juga berpotensi mendapat dukungan jangka pendek dari aktivitas penyesuaian portofolio investor menjelang periode libur panjang Lebaran. Namun demikian, Farras menambahkan, arah pergerakan pasar tetap akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global serta dinamika arus dana asing.















