Astra (ASII) Siapkan Buyback Rp8 Triliun, Mulai Juli 2026

Astra International menyiapkan buyback saham senilai Rp8 triliun yang akan dimintakan persetujuan dalam RUPSLB pada 17 Juli 2026.
Buyback bertujuan mengoptimalkan alokasi modal, menjaga fleksibilitas pendanaan, serta meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham.
Simulasi keuangan menunjukkan aset dan ekuitas Astra turun setelah buyback, namun laba bersih tetap Rp6,4 triliun dan EPS naik menjadi Rp149 per saham.
Jakarta, FORTUNE — PT Astra International Tbk (ASII) menyiapkan buyback saham senilai Rp8 triliun. Aksi korporasi tersebut akan meminta persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), dijadwalkan pada 17 Juli 2026.
Rencana buyback atau rencana pembelian kembali saham Astra akan berlangsung pada 20 Juli 2026 hingga 16 Juli 2027 setelah memperoleh persetujuan pemegang saham.
Perseroan menyampaikan buyback menjadi bagian dari strategi pengelolaan modal. Tujuannya untuk mengoptimalkan alokasi dana serta mendukung imbal hasil bagi pemegang saham dengan tetap menjaga fleksibilitas pendanaan untuk kebutuhan bisnis.
Table of Content
Astra alokasikan Rp8 triliun untuk buyback saham
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Astra International menjelaskan nilai dana yang dialokasikan untuk buyback saham mencapai Rp8 triliun. Jumlah tersebut belum termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya lain yang berkaitan dengan pelaksanaan transaksi.
Manajemen ASII menyebut buyback merupakan salah satu instrumen yang digunakan perusahaan dalam kerangka alokasi modal. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan nilai jangka panjang bagi pemegang saham sekaligus mempertahankan posisi keuangan perusahaan.
"Pembelian kembali saham merupakan salah satu instrumen alokasi modal yang dapat digunakan Perseroan untuk mengoptimalkan alokasi modal dan mendukung imbal hasil bagi pemegang saham, dengan tetap menjaga fleksibilitas yang memadai untuk mendanai peluang pertumbuhan serta mempertahankan posisi keuangan yang kuat," tulis manajemen ASII, dikutip Kamis (11/6).
Astra tetap mempertimbangkan kebutuhan pendanaan untuk pertumbuhan usaha saat menjalankan program buyback. Perseroan juga memastikan aksi tersebut tidak mengganggu aktivitas operasional perusahaan.
Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak melebihi 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan. Sementara itu, jumlah saham publik atau free float setelah pelaksanaan buyback tetap memenuhi ketentuan minimum BEI, yakni sebesar 15 persen.
Dampak buyback terhadap kondisi keuangan Astra
Berdasarkan simulasi laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026, penggunaan dana maksimal Rp8 triliun untuk buyback akan berdampak pada perubahan sejumlah pos keuangan Astra.
Total aset perseroan diperkirakan turun dari Rp517,8 triliun menjadi Rp509,8 triliun setelah pembelian kembali saham dilakukan. Sementara itu, total ekuitas diperkirakan berkurang dari Rp293,1 triliun menjadi Rp285,1 triliun.
Meski terdapat perubahan pada aset dan ekuitas, laba bersih periode berjalan dalam simulasi tetap berada di angka Rp6,4 triliun. Laba per saham atau earnings per share (EPS) diproyeksikan naik menjadi Rp149 per saham dari sebelumnya Rp146 per saham.
Astra menyatakan proforma tersebut menunjukkan tidak adanya perubahan signifikan terhadap indikator keuangan perusahaan setelah memperhitungkan rencana buyback.
"Perseroan berkeyakinan bahwa pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap kinerja operasional dan pendapatan perseroan," ungkap manajemen ASII.
Perseroan juga menjelaskan dana pelaksanaan buyback berasal dari kas internal perusahaan, bukan dari pinjaman maupun dana hasil penawaran umum.
Riwayat buyback Astra sebelumnya
Sebelum rencana buyback senilai Rp8 triliun, Astra telah melakukan pembelian kembali saham dalam beberapa periode. Sesuai keterbukaan informasi BEI, Astra telah menjalankan program buyback dalam tiga tahap sejak November 2025 hingga Juni 2026.
Tahap pertama berlangsung pada 3 November 2025 hingga 13 Januari 2026 dengan pembelian sebanyak 305,21 juta saham. Kemudian, tahap kedua dilakukan pada 19 Januari hingga 25 Februari 2026 dengan jumlah saham buyback mencapai 104,85 juta saham.
Pada tahap ketiga, yang berlangsung dari 16 Maret hingga 15 Juni 2026, Astra merealisasikan buyback sebanyak 153,43 juta saham. Dengan demikian, total saham yang telah dibeli kembali Astra dalam periode tersebut mencapai 563,49 juta saham.
Sebagian saham buyback direncanakan untuk dialihkan dalam program kepemilikan saham manajemen atau Management Stock Ownership Program (MSOP). Saham yang digunakan berasal dari saham treasuri hasil buyback periode ketiga dengan jumlah maksimal 100 juta saham.
Periode dan batas penghentian buyback
Pelaksanaan buyback terbaru akan berjalan mulai 20 Juli 2026 hingga 16 Juli 2027. Namun, perseroan dapat menghentikan pembelian kembali saham sebelum periode berakhir apabila kondisi tertentu terpenuhi.
Penghentian dapat dilakukan apabila jangka waktu buyback telah berakhir, dana yang digunakan telah mencapai batas maksimal Rp8 triliun, atau perseroan memutuskan untuk menghentikan program tersebut.
Apabila penghentian dilakukan berdasarkan keputusan perseroan, Astra wajib menyampaikan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beserta alasan dan mengumumkannya kepada publik paling lambat dua hari kerja setelah penghentian.
Usai periode buyback selesai, saham yang diperoleh akan dicatat sebagai saham treasuri. Perseroan juga membuka kemungkinan untuk melakukan pengalihan terhadap saham hasil pembelian kembali sesuai ketentuan yang berlaku.
FAQ seputar Astra (ASII) siapkan buyback 8 triliun
| Kapan periode buyback Astra berlangsung? | Buyback dijadwalkan berlangsung pada 20 Juli 2026 hingga 16 Juli 2027. |
| Berapa batas maksimal saham yang dapat dibeli kembali Astra? | Jumlah saham yang dibeli kembali tidak melebihi 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor. |
| Dari mana sumber dana buyback Astra? | Dana buyback berasal dari kas internal perusahaan. |














