Bitcoin Tembus US$63.000, Peluang Menuju US$65.000 Terbuka?

- Bitcoin menembus level US$63.000 dengan kenaikan 2,48 persen, didorong oleh membaiknya sentimen pasar global dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
- Analis menilai penguatan Bitcoin lebih dipengaruhi faktor makroekonomi daripada fundamental kripto, dengan level US$62.000 menjadi batas penting untuk menjaga tren kenaikan menuju US$64.000–US$65.000.
- Prospek jangka pendek masih positif namun penuh kehati-hatian, karena arah pergerakan selanjutnya bergantung pada hasil pertemuan The Fed, arus dana ETF, dan dinamika risiko global.
Jakarta, FORTUNE - Harga Bitcoin kembali menguat dan berhasil menembus level US$63.000 pada perdagangan Jumat (12/6). Kenaikan ini terjadi seiring membaiknya sentimen pasar global, setelah sejumlah aset berisiko, termasuk saham dan emas, bergerak positif di tengah perubahan ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin tercatat menguat 2,48 persen ke level US$63.615,89. Kinerja tersebut lebih baik dibandingkan mayoritas aset kripto lain yang cenderung bergerak terbatas, meskipun kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan turut meningkat sekitar 2,26 persen.
Penguatan Bitcoin kali ini dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan perkembangan fundamental industri kripto itu sendiri. Sejumlah indikator menunjukkan pergerakan aset digital terbesar di dunia tersebut masih memiliki hubungan erat dengan pasar keuangan tradisional. Bitcoin tercatat memiliki korelasi sekitar 91 persen terhadap indeks S&P 500 dan 83 persen terhadap emas, mencerminkan sensitivitasnya terhadap perubahan ekspektasi suku bunga global.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai kenaikan harga saat ini lebih mencerminkan pemulihan teknikal yang didorong sentimen makroekonomi daripada reli yang ditopang faktor fundamental pasar kripto.
“Kenaikan Bitcoin ke atas US$63.000 menunjukkan bahwa pasar mulai kembali mengambil posisi pada aset berisiko, terutama setelah saham dan emas ikut menguat. Namun, reli ini masih sangat bergantung pada sentimen makro, khususnya ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed," ujar Fyqieh, dalam keterangan kepada Fortune Indonesia, Jumat (12/6).
Dengan kata lain, meskipun peluang menuju US$64.000 hingga US$65.000 terbuka, investor tetap perlu berhati-hati karena belum terlihat katalis kripto yang benar-benar kuat.
Menurut Fyqieh, level US$62.000 kini menjadi titik penting yang perlu dipertahankan Bitcoin untuk menjaga tren kenaikannya. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, peluang menuju kisaran US$64.000 hingga US$65.000 masih terbuka lebar.
Sebaliknya, jika level tersebut gagal dipertahankan, tekanan jual berpotensi kembali meningkat dan mendorong harga menguji area support berikutnya di sekitar US$61.000.
“Secara teknikal, level US$62.000 menjadi batas psikologis yang penting. Jika mampu bertahan di atas area itu, Bitcoin berpeluang menguji exponential moving average 200 hari di sekitar US$63.700-an, lalu bergerak ke US$64.000 hingga US$65.000. Namun, jika support tersebut ditembus, pasar bisa kembali defensif,” kata Fyqieh.
Selain faktor suku bunga, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik global. Bitcoin sempat memperoleh dorongan setelah muncul optimisme terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kabar tersebut meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko dan membantu pemulihan harga Bitcoin dari tekanan sebelumnya.
Sebelumnya, aset kripto tersebut sempat terkoreksi setelah data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan pasar. Data itu memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari yang diharapkan.
Namun, kekhawatiran tersebut berangsur mereda seiring membaiknya persepsi pasar terhadap risiko geopolitik. Perubahan sentimen itu turut mendorong penguatan sejumlah aset kripto utama lainnya seperti Ethereum, BNB, dan Solana.
Risiko masih membayangi pasar kripto
Meski demikian, Fyqieh menilai tren kenaikan Bitcoin masih membutuhkan dukungan tambahan agar dapat berlanjut secara berkelanjutan. Perhatian investor saat ini tertuju pada arus dana institusional melalui produk spot Bitcoin ETF serta hasil pertemuan Federal Reserve pada 16–17 Juni mendatang.
“Arus dana ETF akan menjadi indikator penting. Jika inflow kembali kuat, itu bisa memperkuat struktur harga Bitcoin karena pasokan likuid di pasar berkurang. Tetapi jika outflow berlanjut, kenaikan harga berisiko tidak berkelanjutan. Pasar saat ini masih sensitif terhadap data inflasi, arah suku bunga, serta komentar The Fed,” ujarnya.
Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini tengah menguji area resistance penting di kisaran US$64.500 hingga US$65.000. Zona tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena menyimpan konsentrasi likuiditas yang cukup besar. Jika momentum beli mampu bertahan, peluang penembusan ke level yang lebih tinggi masih terbuka.
Meski demikian, sejumlah risiko masih membayangi pasar kripto. Rendahnya volume perdagangan, arus keluar dari produk ETF, serta ketidakpastian ekonomi global berpotensi menjadi faktor yang membatasi ruang kenaikan harga dalam jangka pendek.
Fyqieh mengingatkan investor untuk tidak hanya berfokus pada pencapaian level harga tertentu, tetapi juga memperhatikan kualitas penguatan yang terjadi.
“Yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah Bitcoin bisa menyentuh US$65.000, tetapi apakah harga mampu bertahan di atas level kunci tersebut. Jika kenaikan hanya didorong sentimen sesaat tanpa dukungan volume, EJakartaTF inflow, dan kepastian makro, maka risiko koreksi tetap terbuka,” ujar Fyqieh.
Dalam jangka pendek, prospek Bitcoin masih cenderung positif meski dibayangi kehati-hatian. Selama harga mampu bertahan di atas US$62.000, peluang melanjutkan penguatan menuju US$64.000 hingga US$65.000 tetap terbuka. Namun, arah pergerakan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh hasil pertemuan The Fed, perkembangan arus dana ETF, serta dinamika sentimen risiko global.
Saat ini Bitcoin berada pada fase yang cukup menentukan. Momentum kenaikan mulai terbentuk, tetapi pasar masih menunggu konfirmasi yang lebih kuat sebelum reli berlanjut ke level yang lebih tinggi.













