Bitcoin Sentuh Titik Terendah, ke Mana Investor Melangkah?

Jakarta, FORTUNE- Harga Bitcoin kembali berada dalam tekanan setelah sempat menyentuh level US$61.348 pada Kamis (5/6), menjadi titik terendah sejak Februari. Pelemahan tersebut terjadi di tengah arus keluar (outflow) ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat yang telah berlangsung selama 12 hari berturut-turut, periode terpanjang sejak instrumen investasi tersebut diluncurkan pada Januari 2024.
Kondisi itu memicu sikap lebih hati-hati di kalangan investor kripto Indonesia. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan sebagian pelaku pasar memilih mengurangi risiko sambil menunggu arah pasar yang lebih jelas.
Menurut Calvin, tekanan terhadap Bitcoin saat ini dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah faktor, mulai dari aksi jual institusional, arus keluar ETF Bitcoin, hingga ketidakpastian geopolitik dan kondisi makroekonomi global.
“Sentimen investor Indonesia saat ini cenderung lebih berhati-hati. Pelemahan harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir memang membuat sebagian investor memilih posisi risk-off dan wait and see, terutama karena tekanan pasar global masih cukup besar,” ujar Calvin, saat dihubungi Fortune Indonesia, Jumat (5/6).
Meski demikian, Tokocrypto belum melihat adanya gelombang panic selling dari investor domestik. Sebagian besar investor justru memilih mempertahankan kepemilikan aset kripto mereka sembari menunggu kondisi pasar lebih stabil.
Di tengah koreksi pasar, perilaku investor terbagi ke dalam beberapa kelompok. Investor jangka pendek cenderung mengurangi aktivitas perdagangan atau memindahkan sebagian aset ke stablecoin.
Sementara itu, investor jangka panjang masih mempertahankan kepemilikan Bitcoin karena tetap meyakini prospek jangka panjang aset tersebut. Sebagian investor yang lebih agresif bahkan mulai melakukan akumulasi secara bertahap menggunakan strategi dollar cost averaging (DCA).
“Ketiga, sebagian investor yang lebih agresif justru mulai melakukan akumulasi secara bertahap ketika harga terkoreksi, tetapi dilakukan dengan lebih selektif dan tidak langsung masuk dalam jumlah besar. Mereka menggunakan strategi dollar cost averaging (DCA),” kata Calvin.
Dari sisi aktivitas perdagangan, Tokocrypto mencatat volume transaksi dalam beberapa pekan terakhir masih relatif bertahan di atas US$80 juta, meskipun mengalami penurunan sekitar 3 persen. Sementara jumlah trader aktif berada di kisaran 310 ribu pengguna atau turun sekitar 10,33 persen.
Meski aktivitas perdagangan sedikit melambat, minat masyarakat terhadap aset kripto dinilai masih terjaga. Hal itu terlihat dari pertumbuhan pengguna baru yang mencapai sekitar 15,61 ribu akun, meningkat hampir 30 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Di tengah pelemahan Bitcoin, investor juga mulai mencari alternatif aset lain. Data Tokocrypto menunjukkan sejumlah aset kripto justru mencatat lonjakan transaksi dalam sepekan terakhir.
WLFI menjadi aset dengan kenaikan volume transaksi tertinggi, mencapai 409,31 persen dengan nilai sekitar US$915 ribu. Selain itu, PAXG naik 69,77 persen dengan volume transaksi sekitar US$2,38 juta. Stablecoin USDT juga mengalami peningkatan transaksi sebesar 31,75 persen dengan volume mencapai US$41,34 juta.
“Di sisi lain, stablecoin seperti USDT juga mengalami peningkatan transaksi sebesar 31,75 persen, dengan volume terbesar di antara aset lain, yaitu sekitar US$41,34 juta. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak investor memilih menjaga likuiditas di aset yang lebih stabil sambil menunggu arah pasar lebih jelas,” ujar Calvin.
Menurutnya, arus keluar ETF Bitcoin spot di AS menjadi faktor yang paling cepat memengaruhi sentimen pasar saat ini karena dianggap sebagai indikator minat investor institusional terhadap Bitcoin. Ketika dana keluar dari ETF, pasar membaca kondisi tersebut sebagai sinyal berkurangnya eksposur terhadap aset berisiko, yang kemudian menekan harga dan memengaruhi psikologi investor ritel.
Meski tekanan masih berlangsung, perusahaan menilai kondisi saat ini lebih mencerminkan fase koreksi jangka pendek dibanding perubahan fundamental pada pasar kripto.
“Kondisi ini menurut kami masih lebih mencerminkan koreksi jangka pendek yang cukup dalam, bukan perubahan tren fundamental secara penuh,” ujar Calvin.
Ia menambahkan bahwa prospek jangka panjang Bitcoin belum berubah secara mendasar. Menurutnya, pasar saat ini hanya sedang mengalami fase konsolidasi sambil menunggu pulihnya kepercayaan investor dan masuknya arus dana baru.
“Jadi, saat ini kami melihatnya sebagai fase koreksi dan konsolidasi pasar, bukan sinyal perubahan tren fundamental jangka panjang,” katanya.










