Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Bitcoin Kehilangan Momentum, Tekanan Geopolitik Picu Koreksi Kripto

Bitcoin Kehilangan Momentum, Tekanan Geopolitik Picu Koreksi Kripto
ilustrasi bitcoin (pixabay.com/RoyBuri)
Intinya Sih
  • Pasar kripto global anjlok sekitar 4% akibat ketegangan geopolitik AS-Iran, membuat Bitcoin turun di bawah US$73.000 dan Ethereum jatuh di bawah US$2.000.
  • Likuidasi posisi leverage mencapai lebih dari US$900 juta dalam 24 jam, memperparah tekanan jual setelah Bitcoin kehilangan level support penting di sekitar US$75.000.
  • Arus keluar besar dari ETF Bitcoin dan Ethereum menandakan melemahnya minat institusional, sementara lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Pasar aset kripto global kembali berada dalam tekanan pada Jumat (29/5) seiring meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu sentimen negatif terhadap aset berisiko. Kondisi tersebut menekan harga Bitcoin, memicu arus keluar dana dari ETF kripto, serta menyebabkan gelombang likuidasi besar di pasar derivatif.

Berdasarkan data CoinGecko, kapitalisasi pasar kripto global turun sekitar 4 persen dalam 24 jam terakhir menjadi sekitar US$2,48 triliun. Bitcoin sempat merosot dari kisaran US$76.000 ke bawah US$73.000, level terendah dalam lima pekan terakhir, sebelum bergerak sedikit pulih pada perdagangan berikutnya.

Ethereum juga mengalami tekanan dengan penurunan lebih dari 5 persen hingga berada di bawah level US$2.000. Sementara itu, sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar seperti Solana, XRP, BNB, Dogecoin, dan Hyperliquid terkoreksi antara 6 persen hingga 14 persen karena investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah meningkatnya ketidakpastian makroekonomi.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan tekanan di pasar kripto saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor teknikal, tetapi juga dinamika geopolitik dan kondisi ekonomi global.

"Pasar kripto sedang menghadapi kombinasi tekanan dari beberapa faktor sekaligus, mulai dari eskalasi geopolitik, kenaikan harga minyak, pelemahan minat institusional melalui ETF, hingga likuidasi posisi leverage yang cukup besar," dalam keterangannya, Jumat (29/5).

Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto, sehingga tekanan jual menjadi lebih kuat.

Data CoinGlass menunjukkan lebih dari US$900 juta posisi kripto terlikuidasi di pasar derivatif dalam 24 jam terakhir. Mayoritas likuidasi berasal dari posisi long atau taruhan bahwa harga akan naik. Gelombang likuidasi tersebut terjadi setelah Bitcoin kehilangan level support di sekitar US$75.000 dan Ethereum turun ke bawah area US$2.100.

Tekanan jual semakin meningkat karena bursa secara otomatis menutup posisi yang tidak lagi memenuhi persyaratan margin. Kondisi ini menambah tekanan pada harga spot dan memperbesar momentum penurunan di pasar kripto secara keseluruhan.

Dari sisi makroekonomi, sentimen investor turut melemah setelah harga minyak dunia melonjak akibat eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran. WTI crude futures naik 2,6 persen ke atas US$91 per barel, sementara Brent crude mendekati US$96 per barel menyusul laporan serangan AS terhadap target militer Iran yang dinilai mengancam jalur pelayaran komersial di sekitar Selat Hormuz.

Kenaikan harga energi memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih lama. Situasi tersebut berpotensi mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat, sehingga likuiditas bagi aset spekulatif seperti kripto dapat semakin terbatas.

"Ketika harga minyak naik akibat risiko geopolitik, pasar akan kembali menghitung potensi tekanan inflasi. Jika inflasi tetap tinggi, ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa tertunda. Ini menjadi tantangan bagi aset kripto karena pasar membutuhkan likuiditas yang lebih longgar untuk mendorong pemulihan yang lebih kuat," kata Fyqieh.

Di tengah kondisi tersebut, minat investor institusional terhadap aset kripto juga menunjukkan pelemahan. ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih sekitar US$733 juta pada Rabu, menjadi penarikan harian terbesar sejak Februari tahun ini. Arus keluar tersebut memperpanjang tren negatif ETF Bitcoin spot menjadi delapan hari perdagangan berturut-turut.

Sementara itu, ETF Ethereum spot juga membukukan arus keluar selama 12 hari berturut-turut setelah dana sekitar US$67 juta keluar pada Rabu (27/5). Secara kumulatif, penarikan dana dari ETF Bitcoin spot AS dilaporkan mencapai US$2,33 miliar dalam dua pekan terakhir, mencerminkan sikap hati-hati investor institusional di tengah tingginya volatilitas pasar.

Penurunan harga juga membuat Bitcoin keluar dari daftar 10 aset terbesar dunia berdasarkan kapitalisasi pasar. Kapitalisasi pasar Bitcoin turun menjadi sekitar US$1,09 triliun, berada di bawah emas, perak, serta saham-saham teknologi besar yang tergabung dalam kelompok "Magnificent Seven".

Meski demikian, Fyqieh menilai penurunan peringkat tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan melemahnya fundamental Bitcoin dalam jangka panjang.

"Turunnya Bitcoin dari daftar 10 aset terbesar dunia lebih mencerminkan tekanan jangka pendek dan kuatnya performa aset lain, khususnya saham teknologi besar dan emas. Namun, level kapitalisasi pasar sekitar US$1 triliun tetap menjadi area penting yang menunjukkan bahwa Bitcoin masih memiliki posisi signifikan dalam peta aset global," ujarnya.

Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan ketegangan geopolitik, pergerakan harga minyak, arus dana ETF, serta data inflasi Amerika Serikat. Jika tekanan makro mulai mereda dan arus keluar ETF melambat, pasar kripto berpotensi menemukan titik stabil baru.

Namun, Fyqieh mengingatkan investor untuk tetap mengedepankan manajemen risiko di tengah tingginya volatilitas pasar, terutama bagi mereka yang menggunakan leverage.

"Dalam fase seperti ini, investor perlu lebih disiplin dalam mengelola risiko. Volatilitas yang tinggi dapat menciptakan peluang, tetapi juga meningkatkan risiko kerugian, terutama bagi posisi leverage. Fokus utama saat ini adalah melihat apakah Bitcoin mampu bertahan di area support penting dan apakah tekanan dari ETF serta faktor makro mulai mereda," katanya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More