Bitcoin Meledak ke US$97.000, Likuidasi Rp11 T Dorong Euforia Kripto

Jakarta, FORTUNE - Pasar aset digital kembali memanas. Harga Bitcoin melesat ke kisaran US$97.000 pada Kamis (15/1) pagi, dipicu arus likuidasi posisi short serta kembalinya selera risiko (risk-on) di pasar global.
Mengacu data CoinMarketCap, kapitalisasi pasar kripto dunia meningkat 0,65 persen menjadi US$3,28 triliun. Bitcoin (BTC) tercatat naik 1,54 persen ke level US$97.228 per koin, setara sekitar Rp1,63 miliar (kurs Rp16.857).
Indeks CoinDesk 20 turut menguat 0,95 persen. Ethereum (ETH) menguat 0,9 persen ke US$3.362, sementara Binance Coin (BNB) naik tipis 0,25 persen ke US$949. Di sisi lain, Solana (SOL) terkoreksi 0,24 persen ke US$146, XRP melemah 1,67 persen ke US$2,14, dan Dogecoin (DOGE) turun 1,71 persen ke US$0,14.
Melansir CoinDesk, reli Bitcoin berlanjut pada Rabu waktu setempat, dengan harga sempat menyentuh US$97.800 di sesi perdagangan Amerika Serikat. Lonjakan ini terjadi setelah BTC akhirnya menembus area resistensi US$95.000 yang selama hampir dua bulan terakhir menahan pergerakan harga.
Kenaikan serempak dua kripto terbesar, Bitcoin dan Ethereum, memicu gelombang likuidasi besar di pasar derivatif, terutama pada posisi leverage. Data CoinGlass menunjukkan hampir US$700 juta posisi short terlikuidasi. Dari jumlah tersebut, sekitar US$380 juta berasal dari posisi short Bitcoin dan lebih dari US$250 juta dari short Ethereum.
“Penembusan di atas US$ 95.000 memicu likuidasi signifikan dari posisi short, sehingga menciptakan lonjakan permintaan akibat aksi penutupan posisi,” ujar Kepala Riset CF Benchmarks, Gabe Selby.
Meski demikian, Selby menilai reli ini belum tentu mencerminkan pergeseran fundamental. Ia menyebut kenaikan harga lebih bersifat teknikal, didorong peran market maker untuk menyeimbangkan ketimpangan suplai-permintaan pasca fase penurunan tajam pada Oktober–November lalu.
Sementara itu, Analis LMAX Group Joel Kruger menilai keberhasilan Bitcoin menembus US$95.000 merupakan sinyal penting kembalinya mode risk-on di pasar kripto.
“Pergerakan ini membangkitkan kembali momentum bullish, dengan pelaku pasar mulai membidik potensi kenaikan ke atas US$100.000 serta kemungkinan pengujian ulang rekor tertinggi sepanjang masa,” tulis Kruger dalam catatannya, Rabu (14/1).
Kruger menambahkan, penguatan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Sejumlah aset berkapitalisasi besar turut mengikuti reli seiring pulihnya minat risiko. Rekor tertinggi Bitcoin sebelumnya tercatat di US$126.000 pada awal Oktober tahun lalu.
Ia juga menyoroti dukungan dari pasar tradisional. Pasar saham yang relatif solid serta imbal hasil obligasi yang mulai stabil dinilai berpotensi memperpanjang reli kripto. Kenaikan harga turut diiringi lonjakan volume transaksi, menandakan masuknya permintaan baru. Di sisi lain, tingkat pendanaan (funding rate) pada kontrak perpetual masih relatif rendah, mengindikasikan reli tidak didorong spekulasi berlebihan.
“Penutupan mingguan Bitcoin di atas US$95.000, atau Ethereum menembus US$3.500, akan menjadi pengaruh penting untuk dorongan kenaikan berikutnya,” ujar Kruger.








