- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan target harga 1.800 dan stop loss 1.600.
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target harga 4.520 dan stop loss 4.150.
- PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) dengan target harga 418 dan stop loss 388.
IHSG Turun 1,7 Persen Pagi Ini Imbas Konflik AS-Iran dan Aksi Asing

IHSG turun hingga sekitar 1,7 persen pada awal perdagangan 2 Maret 2026.
Eskalasi konflik AS–Iran dan lonjakan harga minyak memicu sentimen risk-off global.
Arus keluar dana asing mencapai Rp9,61 triliun secara year to date.
Jakarta, FORTUNE — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam pada awal perdagangan Senin (2/3) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu sentimen risk-off global. IHSG dibuka melemah ke level 8.092,90 dan sempat tertekan hingga lebih dari 1,7 persen pada sesi pagi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan RTI Business, hingga pukul 09.30 WIB IHSG berada di kisaran 8.097–8.109 atau turun sekitar 1,5–1,7 persen dibandingkan penutupan akhir pekan di 8.235,48. Tekanan terjadi di tengah pelemahan bursa global, lonjakan harga minyak, serta arus keluar dana asing yang masih berlanjut.
Berikut rangkuman faktor yang membayangi pergerakan IHSG dan respons pasar pada awal pekan.
Tekanan awal pekan: 600 lebih saham di zona merah
Sejak pembukaan perdagangan, IHSG langsung bergerak di zona negatif. Level terendah pada sesi pagi tercatat di 8.039,51, sedangkan level tertinggi sempat menyentuh 8.132,09.
Data perdagangan menunjukkan tekanan jual yang luas. Pada pukul 09.04 WIB, sebanyak 663 saham tercatat melemah, 64 saham menguat, dan 231 saham stagnan.
Nilai transaksi mencapai kisaran Rp5,28 triliun hingga Rp7,89 triliun dengan volume perdagangan antara 8,27 miliar hingga 14,56 miliar lembar saham dan frekuensi mendekati 988 ribu kali transaksi.
Mayoritas indeks saham unggulan turut tertekan. Indeks LQ45 melemah 1,79 persen, IDX30 turun sekitar 1,78 persen, sementara IDX80 terkoreksi 1 persen. Indeks berbasis ESG dan syariah seperti IDXESGL, JII, dan SRI-KEHATI juga bergerak di zona merah.
Seluruh indeks sektoral tercatat melemah, termasuk energi, konsumer siklikal, keuangan, industri, bahan baku, properti, transportasi, infrastruktur, teknologi, hingga kesehatan.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah saham energi dan komoditas masuk jajaran top gainers, antara lain PT Indo Oil Perkasa Tbk (OILS), PT Black Diamond Resources Tbk (COAL), dan PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk (YULE). Sebaliknya, saham seperti PT Sekar Bumi Tbk (SKBM) dan beberapa emiten lain masuk daftar top losers pada sesi pagi.
Konflik AS–Iran dan lonjakan harga minyak
Tekanan terhadap IHSG terjadi setelah eskalasi konflik Amerika Serikat–Israel dan Iran mendorong pelaku pasar global mengalihkan dana ke aset safe haven.
Bursa Wall Street sebelumnya ditutup di zona merah. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,05 persen ke 48.977,92, S&P 500 terkoreksi 0,43 persen ke 6.878,88, dan Nasdaq melemah 0,92 persen ke 22.668,21.
Analis BRI Danareksa Sekuritas dalam riset hariannya menyebut tekanan pasar dipicu meningkatnya sentimen risk-off global akibat eskalasi konflik tersebut. Pasar juga mencermati potensi gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 7,24 persen ke level 71,9 dolar AS per barel dan menguat 16,20 persen dalam sebulan terakhir. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik.
Di sisi lain, aliansi OPEC+ menyepakati peningkatan produksi sebesar 206 ribu barel per hari mulai April 2026. Namun, keputusan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan.
Harga emas global juga naik 1,32 persen ke level 5.340 dolar AS per ons pada 2 Maret 2026, menunjukkan peningkatan minat investor terhadap instrumen lindung nilai.
Arus dana asing dan data domestik
Dari sisi domestik, arus dana asing masih menunjukkan tekanan. Sepanjang pekan lalu, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp4,90 triliun. Secara year to date (ytd), akumulasi outflow mencapai Rp9,61 triliun hingga 27 Februari 2026.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup stagnan di level 8.235 dengan aksi net foreign sell sebesar Rp802 miliar.
Di tengah tekanan eksternal, data fundamental domestik menunjukkan perbaikan. Indeks PMI Manufaktur Indonesia pada Februari 2026 naik ke 53,8 dari 52,6 pada bulan sebelumnya. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Maret 2024, didorong peningkatan permintaan, pesanan ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.
Dari sisi emiten, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) melaporkan pendapatan tahun buku 2025 sebesar Rp60,71 triliun atau tumbuh 8,8 persen secara tahunan (yoy). Laba bersih meningkat 32,6 persen yoy menjadi Rp4 triliun.
Proyeksi dan rekomendasi saham
BRI Danareksa memperkirakan IHSG bergerak volatil dengan kecenderungan melemah, dengan area support terdekat di kisaran 8.150 hingga 8.100.
“IHSG hari ini diprediksi koreksi dalam kisaran 8.100-8.300.” tulis Analis Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih dalam risetnya, Senin (2/3).
Ajaib Sekuritas merekomendasikan beberapa saham untuk dicermati, antara lain:
Sementara itu, BRI Danareksa juga menyoroti saham energi dan komoditas seperti MEDC, ELSA, dan MDKA sebagai pilihan jangka pendek di tengah volatilitas pasar.
Pergerakan IHSG pada awal pekan mencerminkan respons pasar domestik terhadap dinamika geopolitik global, fluktuasi harga komoditas, serta arus modal asing yang masih berlanjut.
Sanggahan: Artikel ini tidak bertujuan untuk mengajak pembaca menjual, menahan atau membeli produk dari sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
FAQ seputar IHSG turun
| Mengapa IHSG turun pada 2 Maret 2026? | IHSG turun akibat meningkatnya ketegangan konflik AS–Iran yang memicu sentimen risk-off global dan tekanan jual di pasar saham. |
| Berapa level terendah IHSG pada perdagangan pagi? | IHSG sempat menyentuh level terendah di 8.039,51 pada sesi pagi. |
| Bagaimana posisi dana asing di pasar saham Indonesia? | Investor asing mencatatkan net sell Rp4,90 triliun dalam sepekan dan Rp9,61 triliun secara year to date. |
















