- SPN12260702
- SPN03260831
- SPN12270517
- FR0109
- FR0108
- FR0106
- FR0107
- FR0102
- FR0105.
Lelang SUN Menargetkan Rp36 Triliun di Tengah Tekanan Rupiah

Pemerintah menggelar lelang Surat Utang Negara senilai indikatif Rp36 triliun untuk memenuhi sebagian kebutuhan pembiayaan APBN 2026.
Lelang menawarkan sembilan seri SUN dengan tenor bervariasi hingga 2064.
Tekanan global dan pelemahan rupiah membuat investor lebih selektif, dengan minat tinggi pada tenor pendek-menengah seperti FR0109, sementara tenor panjang menuntut kompensasi yield lebih besar.
Jakarta, FORTUNE — Pemerintah kembali menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (26/5) dengan target indikatif sebesar Rp36 triliun. Lelang yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan itu dilakukan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pembiayaan APBN 2026.
Lelang berlangsung saat pasar keuangan domestik yang tengah tertekan. Nilai tukar rupiah masih bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Per 26 Mei 2026 pukul 11.00 WIB, kurs rupiah berada di level Rp17.789 per dolar AS. Kondisi tersebut turut memengaruhi pasar obligasi dan meningkatkan kehati-hatian investor terhadap instrumen surat utang pemerintah.
Table of Content
Pemerintah tawarkan sembilan seri SUN
Berdasarkan pengumuman DJPPR, pemerintah membuka lelang SUN mulai pukul 09.00 WIB hingga 11.00 WIB dengan tanggal setelmen pada 2 Juni 2026. Target indikatif yang ditetapkan mencapai Rp36 triliun dengan target maksimal hingga 150 persen dari nilai tersebut.
Lelang dilakukan menggunakan sistem pelelangan Bank Indonesia secara terbuka (open auction) dengan metode multiple price. Investor yang mengajukan penawaran kompetitif akan membayar sesuai yield yang diajukan, sedangkan penawaran non-kompetitif menggunakan weighted average yield dari hasil lelang kompetitif.
Pemerintah menawarkan sembilan seri SUN, terdiri dari tiga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan enam Obligasi Negara (ON). Seri yang dilelang meliputi:
Untuk tenor pendek, pemerintah menawarkan SPN dengan jatuh tempo mulai Juli 2026 hingga Mei 2027. Sementara itu, obligasi tenor panjang memiliki jatuh tempo hingga 2064.
Minat investor pada lelang SUN mulai melemah
Tekanan terhadap pasar obligasi terlihat pada lelang SUN sebelumnya pada 12 Mei 2026. Saat itu, total incoming bids turun menjadi Rp51,39 triliun dibanding lelang 28 April 2026 sebesar Rp74,95 triliun.
Penyerapan pemerintah turun menjadi Rp30,3 triliun dari Rp40 triliun. Investor tetap masuk ke pasar SUN, tetapi meminta kompensasi imbal hasil lebih tinggi.
Imbal hasil seri tenor panjang pada lelang sebelumnya menembus level 6,8 persen sampai 6,9 persen. Yield FR0102 tenor sekitar 28 tahun tercatat sebesar 6,91 persen, sedangkan FR0105 tenor sekitar 38 tahun mencapai 6,92 persen.
Di sisi lain, FR0109 tenor lima tahun menjadi salah satu seri dengan permintaan terbesar. Incoming bids pada seri tersebut hampir mencapai Rp15 triliun dengan bid-to-cover ratio sebesar 4,47 kali.
Pelemahan rupiah tekan pasar SUN
Pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang membebani pasar SUN. Pada 12 Mei, rupiah sempat menyentuh Rp17.525 per dolar AS.
Tekanan berlanjut hingga pekan ini dan rupiah sempat di level Rp17.743 per dolar AS, sebelum bergerak ke Rp17.788 per dolar AS pada perdagangan 26 Mei 2026.
Kondisi eksternal memengaruhi sentimen investor. Kenaikan harga minyak dunia dinilai berpotensi mendorong inflasi global dan mengangkat yield obligasi pemerintah AS. Situasi tersebut meningkatkan risiko arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di tengah kondisi itu, kebutuhan pembiayaan APBN tetap besar sehingga pemerintah terus aktif melakukan penerbitan SUN. Namun, peningkatan pasokan surat utang di tengah permintaan investor yang lebih selektif berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil.
Investor diperkirakan pilih SUN tenor pendek
Investor diperkirakan masih cenderung memilih SUN tenor pendek dan menengah. Seri seperti SPN dan FR0109 dinilai lebih menarik di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
Sementara itu, obligasi tenor panjang seperti FR0102 dan FR0105 diperkirakan membutuhkan tambahan kompensasi yield agar dapat terserap optimal oleh pasar. Kondisi ini berkaitan dengan tingginya sensitivitas tenor panjang terhadap pergerakan suku bunga dan nilai tukar.
Lelang SUN kali ini melibatkan dealer utama, perbankan nasional dan internasional, Bank Indonesia, serta Lembaga Penjamin Simpanan. Pemerintah menyatakan memiliki hak untuk menjual SUN lebih besar atau lebih kecil dari target indikatif yang ditetapkan.
FAQ seputar lelang SUN
| Apa target lelang SUN pemerintah pada 26 Mei 2026? | Pemerintah menargetkan dana Rp36 triliun dalam lelang SUN. |
| Berapa jumlah seri SUN yang dilelang? | Pemerintah menawarkan sembilan seri SUN dalam lelang kali ini. |
| Mengapa pasar SUN menghadapi tekanan? | Tekanan dipengaruhi pelemahan rupiah dan ketidakpastian pasar global. |
| Seri SUN apa yang banyak diminati investor sebelumnya? | FR0109 tenor lima tahun menjadi salah satu seri dengan permintaan terbesar. |

















