Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Ketegangan Timur Tengah Guncang Pasar Global

Ketegangan Timur Tengah Guncang Pasar Global
Ilustrasi Dow Jones (unsplash.com / Dimitri Karastelev)

Jakarta, FORTUNE- Kontrak berjangka saham Amerika Serikat merosot pada Minggu (1/3) malam waktu setempat setelah serangan militer Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran pada akhir pekan memicu lonjakan harga minyak serta meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.

Melansir Fortune.com, kontrak berjangka yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average turun 368 poin atau sekitar 0,72 persen. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 melemah 0,53 persen dan kontrak berjangka Nasdaq Composite turun 0,54 persen.

Tekanan di pasar muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan kemungkinan bertambahnya korban jiwa dari operasi militer yang disebut Operation Epic Fury. Peringatan tersebut muncul setelah laporan awal korban telah beredar. Di saat yang sama, Federal Bureau of Investigation juga menyelidiki penembakan massal di Texas pada Sabtu malam yang diduga terkait aksi terorisme.

Sebelumnya, Trump juga memberi sinyal bahwa konflik dengan Iran berpotensi berlangsung lama. Ia bahkan menyebut perubahan rezim sebagai salah satu tujuan operasi tersebut. Melalui media sosial pada Sabtu, ia menulis bahwa pemboman akan terus dilakukan “selama diperlukan untuk mencapai tujuan kami: perdamaian di seluruh Timur Tengah, bahkan di seluruh dunia.”

Ketegangan geopolitik segera tercermin pada pasar energi global. Kontrak berjangka minyak Amerika Serikat melonjak 6,1 persen menjadi US$71,12 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent Crude naik 6,6 persen ke level US$77,56 per barel.

Melansir Reuters, Dalam perdagangan over-the-counter sebelumnya pada Minggu, harga Brent bahkan sempat melonjak hingga sekitar US$80 per barel.

Iran memproduksi sekitar 4,7 juta barel minyak per hari pada tahun lalu atau sekitar 4,4 persen dari total pasokan minyak dunia. Namun risiko terbesar bagi pasar energi bukan hanya berasal dari produksi Iran, melainkan potensi penutupan Strait of Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global menuju pasar ekspor.

Para analis memperkirakan apabila jalur tersebut ditutup harga minyak berpotensi melonjak hingga US$100 per barel.

Islamic Revolutionary Guard Corps dilaporkan memperingatkan kapal-kapal bahwa mereka tidak diizinkan melintas di Selat Hormuz. Pada Minggu, kelompok tersebut juga mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker minyak menggunakan rudal.

Bahkan sebelum serangan tersebut terjadi, kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi sudah memperlambat aktivitas pelayaran. Data pelayaran yang dihimpun Reuters menunjukkan ratusan kapal tanker yang mengangkut minyak dan gas alam cair telah berlabuh atau berhenti di sekitar Selat Hormuz.

Langkah ini terjadi setelah pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, serta perusahaan perdagangan energi menghentikan sementara pengiriman melalui selat tersebut sejak Sabtu sebagai langkah antisipasi.

Kementerian pelayaran Yunani juga menyarankan kapal-kapal untuk menghindari Teluk Persia, Teluk Oman, serta Selat Hormuz. Sementara perusahaan pelayaran global Maersk mengumumkan penghentian sementara pelayaran kapal melalui jalur tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Penutupan Selat Hormuz diperkirakan akan berdampak paling besar terhadap Asia karena banyak negara di kawasan ini merupakan pengimpor minyak utama yang sangat bergantung pada jalur distribusi tersebut.

Di pasar komoditas lainnya, harga emas naik sekitar 2 persen menjadi US$5.353 per ons, sementara perak menguat 1,9 persen ke level US$95,06. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun relatif stabil di 3,964 persen.

Nilai tukar dolar Amerika Serikat juga menguat sekitar 0,28 persen terhadap euro maupun yen.

Idanna Appio, manajer portofolio dan analis senior yang menangani utang negara serta valuta asing, mengatakan sinyal awal dari pasar mata uang Asia menunjukkan investor mulai bersikap lebih defensif meski belum sepenuhnya memperhitungkan gangguan ekonomi yang sangat besar.

“Saya tidak melihat ini sebagai peristiwa yang memicu krisis likuiditas,” ujarnya kepada Fortune.

Selain perkembangan geopolitik, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis sepanjang pekan ini.

Pada Senin (2/3), Institute for Supply Management dijadwalkan merilis indeks aktivitas manufaktur bulanan. Pada Rabu, ADP akan mempublikasikan data penggajian sektor swasta, sementara Federal Reserve akan merilis laporan Beige Book mengenai kondisi bisnis dan ekonomi regional.

Selanjutnya pada Kamis akan dirilis data produktivitas kuartal keempat, dan pada Jumat U.S. Department of Labor akan mengumumkan laporan ketenagakerjaan bulanan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Market

See More

Ketegangan Timur Tengah Guncang Pasar Global

02 Mar 2026, 11:16 WIBMarket