IHSG Diprediksi Melaju Terbatas, Masih Karena Aksi Profit Taking

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih melaju terbatas pada Jumat (17/4), setelah ditutup turun 0,03 persen kemarin (16/4).
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, kemarin IHSG tertekan karena aksi jual investor asing, khususnya di saham perbankan. Level IHSG pun sudah mencapai level pentingnya di psikologis 7.700.
Reza menambahkan, konflik di Timur Tengah yang tak kunjung usai juga membuat kondisi pasar masih dalam keadaan risk off. "Kabar terbaru, Amerika Serikat dan Iran menunda pertemuan negosiasi jilid kedua dan akan ditentukan sampai pekan depan." katanya dalam riset harian.
Ia memperkirakan IHSG bergerak terbatas dengan kisaran support di 7.500 dan resisten pada 7.700. Saham-saham pilihan tim BRIDS adalah EMTK, INCO, dan KAQI.
Senada, Phintraco Sekuritas menilai, secara teknikal, kondisi IHSG yang masih berada di area overbought mendorong terjadinya profit taking. Sehingga diperkirakan IHSG masih akan bergerak sideways pada kisaran 7.550-7.700. Saham-saham pilihannya adalah ICBP, INTP, MYOR, EMTK, dan NCKL.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran akan prospek ekonomi domestik, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi salah satu opsi investasi yang disukai oleh investor karena menawarkan imbal hasil tinggi. Depresiasi rupiah membuat BI melakukan intervensi dan SRBI menjadi salah satu alat untuk menyerap likuiditas rupiah dan mendukung stabilitas nilai tukar.
BI menambah frekuensi lelang dari satu kali dalam sepekan menjadi dua kali dalam sepekan sejak Februari 2026 dalam kondisi rupiah yang terus mengalami pelemahan.
Phintraco Sekuritas juga menyoroti bahwa IMF memprediksi dunia akan mengalami kekurangan minyak mentah pada 2026, meskipun jika perang AS-Iran dapat berhenti pada pekan ini. IMF mengingatkan agar pemerintah menahan belanja subsidi energi yang berlebihan meskipun untuk melindungi konsumen dari kenaikan harga energi. Hal ini karena sebelum terjadi perang, keuangan publik telah tertekan.
"IEA memperkirakan pasokan minyak global tahun ini akan turun menjadi 10,1 juta bpd, namun IEA juga memprediksi terjadinya penurunan tajam permintaan minyak," kata tim riset Phintraco Sekuritas.

















