Alarm Kripto, Analis Sebut Bitcoin Bisa Terkoreksi hingga US$10.000

Jakarta, FORTUNE - Di tengah volatilitas pasar global yang meningkat, arah pergerakan Bitcoin kembali menjadi sorotan. Sejumlah indikator mengarah pada potensi tekanan lanjutan bagi aset kripto terbesar tersebut.
Bitcoin mulai memperlihatkan indikasi memasuki fase bearish, seiring meningkatnya volatilitas serta korelasi yang semakin kuat dengan pasar saham global.
Senior Commodity Strategist Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, menyoroti kondisi tersebut dalam analisis terbarunya pada 12 April. Ia menilai performa Bitcoin sejak kehadiran ETF justru mengurangi daya tariknya sebagai instrumen diversifikasi.
“Pasar bearish kripto mungkin masih dalam tahap awal jika melihat kinerja sejak ETF bitcoin mulai diperdagangkan pada Januari 2024,” kata McGlone mengutip Bitcoin.com.
McGlone turut membandingkan kinerja ETF Bitcoin milik BlackRock, yakni iShares Bitcoin Trust (IBIT), dengan ETF berbasis indeks saham S&P 500.
Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun akses investor institusi semakin terbuka, Bitcoin belum mampu memberikan imbal hasil yang sepadan dengan tingkat risiko yang dihadapi.
Data juga memperlihatkan bahwa pergerakan Bitcoin kini semakin selaras dengan pasar saham, dengan tingkat korelasi mendekati 0,5. Di sisi lain, volatilitasnya tercatat hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan aset konvensional.
Menurutnya, kondisi ini menjadi tantangan bagi investor yang mencari diversifikasi portofolio.
“Apa yang menarik, imbal hasil total Bitcoin relatif sama dengan pasar saham, tetapi dengan volatilitas sekitar 4 kali lebih tinggi. Volatilitas tinggi dan korelasi tinggi, tanpa imbal hasil yang lebih baik, biasanya harus dihindari dalam diversifikasi,” ujarnya.
Situasi tersebut membuat Bitcoin kini lebih dipandang sebagai aset berisiko tinggi (high beta), bukan lagi sebagai instrumen lindung nilai seperti yang kerap diklaim sebelumnya.
Saat ini, harga Bitcoin berada di kisaran US$71.883, turun dari puncaknya pada 2025 yang mendekati US$126.000. Meski begitu, dalam dua pekan terakhir aset ini masih mencatat kenaikan sekitar 5,6 persen, mencerminkan fase konsolidasi.
McGlone juga mengingatkan potensi koreksi tajam hingga ke level US$10.000. Proyeksi ini didasarkan pada pendekatan mean reversion, yang menilai lonjakan harga sejak 2020 sebagai anomali akibat likuiditas global yang melimpah.
Ia turut menyoroti menjamurnya token kripto baru yang dinilai melemahkan fundamental pasar, menyerupai fenomena gelembung dot-com di masa lalu.
“Pandangan saya, kehancuran pasar kripto mungkin baru saja dimulai. Dulu hanya ada satu pada 2009, yaitu Bitcoin, sekarang ada jutaan token yang nilainya miliaran dolar tanpa fundamental kuat,” ujarnya.
Menurutnya, jika likuiditas global semakin ketat dan investor mulai beralih ke aset yang lebih aman, seperti emas dan obligasi maka tekanan terhadap Bitcoin berpotensi semakin besar.
Di sisi lain, sejumlah faktor masih menopang harga, seperti berkurangnya suplai pasca halving, rendahnya cadangan di bursa, serta aliran dana institusi melaluMeski masih ditopang sejumlah sentimen positif, arah Bitcoin ke depan akan sangat ditentukan oleh dinamika likuiditas global dan investor.

















