Volatilitas Naik Karena Sentimen Geopolitik, IHSG Diproyeksi Melemah

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan cenderung melemah, Senin (2/3), di tengah meningkatnya sentimen risk-off global akibat eksalasi konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan, sentimen tersebut mendorong investor beralih ke aset safe haven, dari aset berisiko. Selain itu, pasar juga mencermati potensi kenaikan harga minyak jika terjadi gangguan distribusi di Selat Hormuz, yang dapat meningkatkan tekanan inflasi dan biaya produksi emiten.
"Meski demikian, tekanan terhadap IHSG berpotensi relatif tertahan mengingat komposisi indeks yang cukup banyak dihuni saham berbasis komoditas yang berpeluang diuntungkan dari kenaikan harga energi dan emas," kata Reza dalam riset hariannya.
Secara teknikal, Reza memperkirakan IHSG hari ini melaju menuju arah support IHSG terdekat di antara level 8.150-8.100. Saham-saham yang ia soroti hari ini adalah MEDC, ELSA, dan MDKA.
Lebih lanjut, Phintraco Sekuritas menambahkan, tewasnya pemimpin tertinggi Iran dan tokoh militer penting lainnya dikhawatirkan memicu perang terbuka yang lebih luas, seiring potensi serangan balasan Iran yang menargetkan pangkalan militer Israel dan AS di seluruh kawasan Timur Tengah.
Secara teknikal, tim riset Phintraco Sekuritas menilai, jika IHSG menembus level 8.100, maka berpeluang menguji level 7.800-8.000. Namun peluang rebound terbuka jika sentimen global mereda dan domestik solid.
Pekan ini, terdapat rilis data sejumlah data indikator ekonomi, yaitu S&P Global Manufacturing PMI (2/3), neraca perdagangan Januari 2026 (2/3), inflasi Februari 2026 (2/3) dan cadangan devisa Februari (6/3).
"Sementara itu penurunan tarif dalam kesepakatan dagang dengan AS dari 19 persen menjadi 15 persen berpotensi menjadi faktor positif terhadap sektor berbasis ekspor," demikian dikutip dari riset harian Phintraco Sekuritas.
Saham-saham yang mereka soroti pada pekan ini, meliputi: HRUM, NCKL, SMDR, AMMN, ERAA, dan MAIN.
Secara ringkas, indeks di bursa Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat (27/2) setelah pengumuman data PPI yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali. Kecemasan akan sektor AI dan kredit swasta juga ikut menambah tekanan di pasar.
Pada pekan ini beberapa data ekonomi AS yang dinantikan di antaranya indeks ISM Manufacturing, ISM non-manufacturing, ADP employment change, non-farm payrolls, unemployment rate, dan penjualan ritel.
















