Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

JPMorgan: Ethereum Masih Tertinggal dari Bitcoin

JPMorgan: Ethereum Masih Tertinggal dari Bitcoin
Ilustrasi Ethereum dan Bitcoin (freepik.com)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Dominasi Bitcoin di pasar kripto dinilai masih sulit disaingi Ethereum, terutama dalam menarik kembali minat investor institusi pasca gejolak pasar pada Oktober 2025. Laporan terbaru JPMorgan menunjukkan arus dana ke produk investasi berbasis Ethereum masih tertinggal jauh dibanding Bitcoin.

Melansir CoinMarketCap, riset JPMorgan yang dipimpin analis Nikolaos Panigirtzoglou menyebut pemulihan dana institusional ke Ethereum berlangsung lebih lambat dibandingkan Bitcoin setelah periode de-leveraging di pasar kripto tahun lalu.

Berdasarkan data JPMorgan, ETF Bitcoin spot telah berhasil memulihkan sekitar dua pertiga dana yang sebelumnya keluar saat pasar bergejolak. Sebaliknya, ETF Ethereum spot baru mampu mengembalikan sekitar sepertiga dari total arus keluar sebelumnya.

Perbedaan tersebut sejalan dengan performa harga kedua aset digital itu. Sejak tekanan pasar pada Oktober 2025, Bitcoin dinilai menunjukkan pemulihan yang lebih solid, sementara Ethereum dan sejumlah altcoin lain masih bergerak lebih lambat.

JPMorgan menilai kondisi tersebut mencerminkan perubahan persepsi investor terhadap dua aset kripto terbesar itu. Bitcoin kini semakin dipandang sebagai “emas digital” dengan narasi kuat sebagai aset lindung nilai.

Di sisi lain, Ethereum masih sangat bergantung pada aktivitas jaringan, perkembangan sektor decentralized finance (DeFi), serta implementasi teknologi di dunia nyata.

Pada Oktober 2025, pasar kripto sempat terguncang gelombang likuidasi besar yang menekan pasar derivatif maupun spot. Produk investasi institusional ikut terdampak, namun pemulihan dana terjadi secara tidak merata.

Bitcoin disebut lebih banyak dipilih investor untuk strategi macro hedging dan safe haven. Sementara itu, minat terhadap ETF Ethereum dinilai masih cenderung hati-hati.

Analis JPMorgan menyebut pemulihan dana sebesar dua pertiga pada Bitcoin dibanding hanya sepertiga pada Ethereum menunjukkan investor profesional masih lebih nyaman meningkatkan eksposur ke Bitcoin.

Menurut JPMorgan, kondisi tersebut bukan semata dipengaruhi volatilitas pasar, tetapi juga terkait perkembangan fundamental jaringan Ethereum.

Laporan itu menyoroti tiga faktor utama yang memengaruhi Ethereum, yakni aktivitas jaringan, adopsi DeFi, dan implementasi penggunaan di dunia nyata. Ketiganya dinilai belum berkembang sesuai ekspektasi pasar.

Meski Ethereum masih memiliki ekosistem pengembang paling aktif di antara blockchain Layer-1, kondisi tersebut dianggap belum cukup menciptakan permintaan berkelanjutan.

Selain itu, nilai Total Value Locked (TVL) di sektor DeFi juga disebut masih bergerak dalam rentang terbatas. Berbagai proyek tokenisasi aset oleh institusi keuangan pun dinilai masih berada dalam tahap uji coba dan belum masuk fase adopsi massal.

Di saat bersamaan, blockchain alternatif mulai menarik sebagian aliran dana yang sebelumnya berpotensi masuk ke Ethereum. JPMorgan menilai persaingan memperebutkan dana investor institusi kini semakin ketat di industri aset digital.

Menariknya, JPMorgan sebelumnya juga sempat menjalankan transaksi surat utang pemerintah AS berbentuk token melalui infrastruktur Ethereum bersama Ondo Finance. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut dinilai belum otomatis mendorong arus investasi jangka panjang ke Ethereum.

Laporan ini menunjukkan tantangan Ethereum dalam mengembalikan daya tariknya di mata investor institusi semakin besar. Jika Bitcoin masih mampu mengandalkan kekuatan narasi sebagai aset lindung nilai digital, Ethereum dinilai perlu membuktikan utilitas jaringannya benar-benar mampu menciptakan permintaan jangka panjang.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More

JPMorgan: Ethereum Masih Tertinggal dari Bitcoin

21 Mei 2026, 13:04 WIBMarket