Pasar Rumah Sekunder Menggeliat di Tengah Kelesuan Sektor Primer

Harga rumah sekunder nasional hanya naik 0,8 persen (YoY) pada April 2026, dengan Denpasar mencatat kenaikan tertinggi 2,0 persen, disusul Bogor dan Surakarta.
Panangian Simanungkalit menilai pasar rumah second berpotensi besar karena suplai rumah baru terbatas dan legalitas unit lebih jelas, membuka peluang bagi Gen Z memiliki hunian terjangkau.
Dalam waktu dekat diprediksi ada pelepasan puluhan ribu aset rumah second lewat lelang perbankan, sementara pasar primer justru terkontraksi 25,67 persen menurut data Bank Indonesia.
Jakarta, FORTUNE – Laju kenaikan harga rumah sekunder di Tanah Air tumbuh tipis 0,8 persen secara tahunan (YoY) pada April 2026. Kendati melandai, fenomena ini diyakini menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan industri properti nasional. Situasi tersebut sekaligus membuka kans lebih luas bagi masyarakat untuk memiliki hunian dengan harga miring dan jaminan hukum yang sahih.
Data Flash Report Rumah123 menunjukkan terdapat 11 kota di seantero negeri yang masih membukukan grafik pertumbuhan harga positif. Kota Denpasar menempati posisi teratas dengan lonjakan 2,0 persen (YoY). Mengekor di belakangnya, Kota Bogor mencatat kenaikan 1,8 persen (YoY) dan Surakarta sebesar 1,5 persen (YoY).
Menanggapi geliat pasar tersebut, anggota Satgas Perumahan sekaligus pengamat properti, Panangian Simanungkalit, angkat bicara. Ia menilai beralihnya animo ke pasar sekunder merupakan momentum bagus bagi konsumen.
“Properti saat ini on the track karena ada momentum rumah second ke pasar sekunder. Ini menjadi peluang besar khususnya bagi Gen Z untuk mulai masuk ke pasar properti dengan legalitas yang sudah jelas dan harga yang masih kompetitif,” ujar Panangian melalui keterangan tertulis yang dikutip Rabu (20/5).
Menurut peneropongan Panangian, pasar rumah seken menyimpan potensi besar untuk berkembang pesat. Faktor pemicunya adalah ketimpangan antara pasokan rumah gres dan lonjakan kebutuhan hunian masyarakat yang terus membubung setiap tahun. Pasar sekunder pun hadir sebagai juru selamat guna mengikis tingginya angka kelangkaan hunian (backlog) nasional.
Ia memprediksi sektor perbankan bakal melepas puluhan ribu aset rumah seken lewat jalur lelang dalam waktu dekat. Komoditas properti yang siap dilego ini mencakup rumah subsidi, rumah komersial, apartemen, hingga tanah kavling dengan rentang harga bervariasi.
“Pasar rumah second ini menarik karena sebagian besar aset sudah berada di kawasan yang hidup, infrastrukturnya terbentuk, dan harga tanah terus meningkat. Dari sisi investasi maupun hunian, potensinya masih sangat besar,” katanya.
Panangian mengatakan seluruh kepemilikan aset tersebut telah lolos uji keabsahan hukum. Walhasil, calon pembeli tidak perlu risau didera persoalan administrasi ataupun sengketa kepemilikan di kemudian hari.
Sektor perbankan juga tengah menyiapkan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) spesifik bagi peminat sistem cicilan rumah seken. Secara makro, Panangian optimistis kebangkitan pasar sekunder ini bakal menyuntikkan likuiditas segar bagi industri perumahan nasional serta memperluas opsi bagi masyarakat.
Kemapanan gerak harga di pasar sekunder ini memapar kontras di tengah lesunya pasar primer atau rumah baru. Bank Indonesia sebelumnya melansir data penjualan properti residensial baru pada kuartal I-2026 yang terkontraksi tajam hingga 25,67 persen secara tahunan.
Jurang pemisah yang menganga ini menegaskan keunggulan kompetitif pasar sekunder. Sektor ini diyakini bakal melaju lebih kencang ditopang oleh kuatnya permintaan dari konsumen akhir, fleksibilitas harga, serta kesiapan unit untuk langsung dihuni.
















