Pasar Pantau Pertemuan Trump di Beijing, Harga Minyak Menguat Tipis

- Harga minyak dunia naik tipis setelah pasar memantau pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing yang diharapkan dapat meredakan konflik Iran dan memperbaiki pasokan energi global.
- Brent menguat 0,25% ke US$105,89 per barel dan WTI naik 0,32% ke US$101,34 setelah sebelumnya turun akibat kekhawatiran kenaikan suku bunga AS karena tekanan inflasi energi.
- Konflik Iran yang menutup sebagian Selat Hormuz masih menghambat distribusi minyak dunia, sementara IEA memperingatkan potensi defisit pasokan global akibat gangguan produksi Timur Tengah.
Jakarta, FORTUNE - Harga minyak dunia naik tipis pada Kamis (14/5). Pelaku pasar terus memantau hasil pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping di Beijing. Investor berharap pertemuan tersebut dapat membuka jalan untuk meredakan konflik Iran yang telah mengganggu pasokan minyak global.
Selain membahas hubungan dagang, Trump diperkirakan akan meminta Cina membantu mendorong Iran mencapai kesepakatan dengan Washington guna mengakhiri perang. Namun, sejumlah analis menilai, Beijing kemungkinan tidak akan menekan Iran terlalu jauh mengingat hubungan strategis kedua negara yang sudah terjalin sejak lama.
Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent naik 26 sen atau 0,25 persen menjadi US$105,89 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 32 sen atau 0,32 persen ke level US$101,34 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak sempat turun pada perdagangan Rabu (13/5). Penurunan tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan suku bunga AS akibat tekanan inflasi dari tingginya harga energi. Pada perdagangan kemarin, harga Brent turun lebih dari US$2 per barel, sedangkan WTI melemah lebih dari US$1 per barel.
Pertemuan Trump dan Xi Jinping di Beijing juga membahas gencatan dagang AS-Cina yang belum sepenuhnya pulih, perang Iran, hingga penjualan senjata AS ke Taiwan.
Analis ING menyebut pasar minyak saat ini masih berada dalam posisi “wait and see” sambil menunggu hasil pembicaraan kedua pemimpin tersebut. Namun, pasar dinilai terlalu berharap bahwa pertemuan kedua negara akan menghasilkan solusi cepat terkait konflik Iran.
Konflik yang pecah sejak akhir Februari membuat Selat Hormuz—jalur utama distribusi energi dunia—sebagian besar tertutup. Kondisi ini menghambat distribusi minyak dari Timur Tengah dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan global.
Meski Trump mengatakan AS tidak sepenuhnya membutuhkan bantuan Cina untuk mengakhiri perang, Washington diperkirakan tetap akan meminta dukungan Beijing guna menyelesaikan konflik tersebut.
Analis IG, Tony Sycamore, mengatakan kegagalan membuka kembali Selat Hormuz secara signifikan bisa membuat AS mempertimbangkan opsi militer baru.
Di sisi lain, Iran dilaporkan memperketat kontrol atas Selat Hormuz sambil menjalin kesepakatan dengan Irak dan Pakistan untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan tersebut.
Pada Rabu, kapal tanker raksasa asal Cina yang membawa 2 juta barel minyak mentah Irak berhasil melintasi Selat Hormuz setelah tertahan lebih dari dua bulan akibat perang AS-Iran. Kapal itu menjadi tanker ketiga yang berhasil keluar dari selat tersebut sejak perang dimulai.
Badan Energi Internasional (IEA) juga memperingatkan pasokan minyak global tahun ini berpotensi defisit akibat terganggunya produksi minyak Timur Tengah dan menurunnya cadangan minyak dunia dengan cepat. Proyeksi ini berbeda dari perkiraan sebelumnya yang menyebut pasar minyak akan mengalami surplus.


















