Rupiah dalam Kepungan Geopolitik: Menanti Titik Balik di Selat Hormuz

Rupiah diproyeksikan mencapai Rp17.100-an per dolar AS hingga akhir 2026.
Ketegangan antara AS dan Iran memicu capital outflow dari pasar saham dan obligasi Indonesia.
Pergerakan rupiah pekan ini turut dipengaruhi rencana kunjungan Presiden AS ke Cina.
Jakarta, FORTUNE – Saat ini nilai tukar rupiah masih tertahan pada kisaran Rp17.400-an per dolar Amerika Serikat. Namun, pada akhir 2026, mata uang tersebut diproyeksikan mencapai level Rp17.100-an. Hingga saat ini, nasib rupiah masih menjadi sandera ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pada pekan lalu, pasar sempat mencicipi angin segar seiring munculnya harapan perdamaian di Timur Tengah. Namun, mendung kembali bergelayut. Penutupan kembali Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia, yang seketika membalikkan sentimen pasar menjadi negatif.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Departemen Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina, menengarai ketidakpastian yang pekat ini telah memicu eksodus modal. Investor asing memilih menarik dananya (capital outflow) dari pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia. Catatan Bank Indonesia menunjukkan, sepanjang triwulan I-2026, investasi portofolio asing mengalami net outflows US$1,7 miliar.
“Kita melihat capital outflow dari pasar saham dan obligasi ini secara tahunannya memang cukup besar. Sejak pandemi kita masih mengalami capital outflow dan belum sepenuhnya kembali ke pasar domestik karena memang serangkaian event, terutama terkait global geopolitik itu terus terjadi. Nah ini yang memang jadi risiko utama saat ini,” ujar Diah di hadapan pers di Jakarta, Senin (11/5).
Di sisi lain, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mencermati adanya faktor eksternal lain yang bakal menyetir gerak rupiah pekan ini. Perhatian tertuju pada rencana lawatan Presiden AS, Donald Trump, ke Tiongkok untuk menemui Presiden Xi Jinping pada akhir pekan nanti.
“Pertemuan puncak tersebut kemungkinan akan fokus pada perdagangan, Taiwan, dan konflik Iran. Apalagi Beijing dipandang sebagai pemain diplomatik kunci mengingat hubungan ekonominya dengan Teheran,” kata Ibrahim.
Pelaku pasar juga sedang memasang telinga lebar-lebar menanti rilis data inflasi AS periode April 2026, termasuk Consumer Price Index (CPI), data penjualan ritel, hingga arah kebijakan bank sentral AS, Fed.
Untuk perdagangan hari ini, Selasa (12/5), Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif, tapi cenderung ditutup melemah pada “rentang Rp17.410 hingga Rp17.460 per dolar.”

















