Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Mandiri Sekuritas: IHSG Masih Dibayangi Putusan MSCI Pekan Ini

Mandiri Sekuritas: IHSG Masih Dibayangi Putusan MSCI Pekan Ini
Ilustrasi perdagangan di bursa saham. (Fortune Indonesia/Tanayastri Dini)

Jakarta, FORTUNE - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan dibayangi oleh 2 isu utama, yakni keputusan evaluasi indeks MSCI dan risiko penurunan peringkat obligasi pemerintah.

Daputi Kepala Divisi Equity Research and Strategy Mandiri Sekuritas, Kresna Partogi Hutabarat, menyebut, MSCI akan mengumumkan putusannya dalam 2 hari ke depan atau sekitar Rabu (13/5) pagi waktu Indonesia. Salah satu yang dinantikan oleh pelaku pasar adalah keputusan final MSCI terkait kemungkinan reklasifikasi pasar modal Indonesia.

"Meskipun pada dasarnya kami mengekspektasikan bahwa Indonesia harusnya tetap bertahan di emerging market, tidak turun ke frontier market," kata Kresna dalam konferensi pers virtual, Senin (11/5).

Lebih lanjut, Mandiri Sekuritas juga memproyeksikan beberapa emiten yang menjadi konstituen MSCI berpotensi dikeluarkan dari indeks, sejalan dengan upaya peningkatan transparansi data yang dijalankan otoritas pasar modal. Hal tersebut terutama berkaitan dengan adanya daftar saham terkonsentrasi atau high shareholding concentration (HSC).

"Nanti kami akan bahas selanjutnya apa kira-kira dampak positif dan negatif dari arah kebijakan tersebut," ujar Kresna.

Selain pengumuman MSCI, risiko turunnya peringkat obligasi pemerintah juga disoroti oleh pelaku pasar. Sebab, itu akan berdampak terhadap cost of equity dan juga aliran modal ke pasar saham ke depannya.

Di luar itu, faktor lain yang membayangi pergerakan IHSG sehingga volatilitasnya masih tinggi adalah nilai tukar rupiah yang masih tertekan oleh dolar Amerika Serikat (AS).

"Dalam 2 bulan terakhir kami mencatat adanya arus investasi asing ke pasar obligasi nasional. Menurut kami, itu merupakan salah satu strategi investor asing untuk merotasi aset dari ekuitas ke obligasi, mengingat risk aversion behavior tersebut," kata Kresna.

Secara year to date, per akhir perdagangan Senin, IHSG telah terkoreksi 21,06 persen ke level 6.905,62 dari 8.748,13 pada awal perdagangan 2026.

Di tengah volatilitas yang terjadi, Mandiri Sekuritas menyoroti sektor-sektor yang kinerjanya akan turut tertekan, seperti manufaktur, consumer, transportasi, hingga perbankan.

Di sisi lain, arus modal yang masuk ke sektor komoditas masih relatif beragam. Baru-baru ini, misalnya, emiten sektor pertambangan mineral tertekan karena wacana revisi tarif royalti minerba. Penundaan rencana itu menjadi sentimen positif jangka pendek bagi sektor itu.

"Tapi, di daftar top buy, banyak juga nama-nama di sektor industri dan juga komoditas, termasuk emiten emas dan batu bara. Emiten-emiten komoditas ini salah satu yang menjadi penopang performa IHSG sepanjang 2026," kata Kresna.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Related Articles

See More

Mandiri Sekuritas: IHSG Masih Dibayangi Putusan MSCI Pekan Ini

11 Mei 2026, 20:49 WIBMarket