Telah Dekati Area Resisten, IHSG Diproyeksikan Melaju Terbatas

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak terbatas pada perdagangan Kamis (7/5), setelah ditutup naik 0,50 persen ke level 7.092.
Namun, Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, proyeksi itu dilandasi oleh laju IHSG yang sudah mendekati area resisten setelah rebound. Level support berada di kisaran 6.920–7.000, sementara resisten di area 7.100–7.160.
"Pasar juga akan mencermati perkembangan geopolitik serta pergerakan rupiah menjelang rilis data cadangan devisa akhir pekan ini," kata Reza dalam riset hariannya.
Daftar saham pilihan tim riset BRIDS hari ini, mencakup: ESSA, ENRG, dan KOTA.
Sebelumnya, IHSG melanjutkan rebound dua hari beruntun meski masih disertai net foreign sell sekitar Rp484 miliar di pasar reguler. Penguatan ditopang data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui ekspektasi pasar.
Dari sisi global, sentimen pasar turut membaik seiring turunnya harga minyak dunia. WTI crude oil melemah sekitar 6 persen ke kisaran US$96 per barel setelah meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan diplomatik antara AS dan Iran. Selain itu, penghentian sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz oleh Presiden Trump turut meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik dan gangguan pasokan energi global.
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan melanjutkan penguatan untuk menguji level 7.150-7.200. Secara teknikal, IHSG berhasil ditutup di atas MA5, yang diikuti oleh penyempitan histogram negatif pada MACD serta stochastic RSI yang bergerak naik dari area oversold.
Daftar saham yang disoroti oleh tim Phintraco Sekuritas adalah HRTA, PSAB, OASA, TOBA, dan ESSA.
Dari segi sentimen, pemerintah menyiapkan rencana untuk menerbitkan instrumen utang dalam mata uang Yuan di Tiongkok, atau dikenal sebagai Panda Bonds. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah melalui diversifikasi sumber pembiayaan internasional.
Dengan rencana penerbitan ini, diharapkan pemerintah Indonesia tidak hanya tergantung pada pembiayaan Dolar AS, sekaligus berpotensi mendapatkan tingkat suku bunga yang lebih rendah. Pemerintah juga merevisi aturan Devisa Hasil Ekspor SDA yang mewajibkan eksportir menempatkan dana hasil ekspor ke bank Himbara serta mengkonversi maksimal 50 persen ke rupiah, yang berlaku mulai 1 Juni 2026.
Selain itu, pemerintah bersiap memberikan intensif subsidi untuk pembelian kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) pada awal Juni 2026 mendatang. Dengan subsidi ini, selain dapat mendorong kenaikan daya beli masyarakat dalam pembelian KBLBB, diharapkan juga akan dapat mengurangi konsumsi bahan bakar minyak.
"Skema kuota subsidi ini akan dirilis secara bertahap. Pemerintah akan mengalokasikan kuota sebanyak 100 ribu unit kendaraan pada tahap awal," demikian dikutip dari riset Phintraco Sekuritas.
















