- 6 penerbitan EBUS dengan nilai dana terhimpun Rp4,3 triliun.
- 1 PUT dengan nilai dana terhimpun sekitar Rp140 miliar.
- 1 IPO dengan nilai dana terhimpun sekitar Rp300 miliar.
OJK: Ada 71 Rencana Penawaran Umum per April, Nilai Indikatif Rp49,8 T

Jakarta, FORTUNE - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan terdapat 71 rencana penawaran umum dalam antrean atau pipeline perizinannya sampai dengan akhir April 2026. Estimasi nilai indikatif mencapai Rp49,84 triliun.
Dari total rencana tersebut, 15 di antaranya merupakan pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) dengan estimasi rencana penghimpunan dana senilai Rp3,67 triliun. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), 11 calon emiten dalam pipeline IPO itu masuk dalam kategori aset skala besar (aset di atas Rp250 miliar). Sementara 4 lainnya adalah calon emiten dengan aset menengah (antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar).
"Pasar modal domestik juga terus menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi korporasi," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi dalam Konferensi Pers RDKB OJK, dikutip Rabu (6/5).
Selain IPO, ada pula 13 rencana Penawaran Umum Terbatas (PUT) dengan nilai indikatif Rp9,98 triliun. Selanjutnya, terdapat 42 rencana Penawaran Umum Berkelanjutan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (PUB EBUS) dengan perkiraan dana terhimpun Rp34,2 triliun. Terakhir, ada 1 rencana penghimpunan dana via EBUS dengan nilai indikatif Rp2 triliun.
Sebagai konteks, sampai dengan akhir April 2026, nilai penghimpunan dana oleh korporasi di pasar modal telah mencapai Rp56,35 triliun. Itu didominasi oleh aksi PUB EBUS Tahun I, II, dan seterusnya, dengan jumlah dana terhimpun senilai Rp51,6 triliun.
Kemudian, aksi penghimpunan dana lainnya mencakup:
Dalam kesempatan yang sama, Hasan pun mengungkapkan, pengumpulan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) telah mencapai Rp1,93 triliun. Itu berasal dari 18 penyelenggara, 606 penerbit, 1.042 penerbitan efek, dan 197.897 pemodal.
Kemudian, pada pasar derivatif keuangan, volume transaksi secara akumulatif tercatat mencapai 143.217 lot, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,05 juta kali. Ekosistemnya terdiri dari 23 pedagang berjangka, 63 pialang berjangka, 6 penasihat berjangka, 15 bank penyimpanan margin, 1 asosiasi, 1 lembaga sertifiikasi profesi, dan 4 penyelenggara.
Untuk bursa karbon, OJK mencatat 155 pengguna jasa terdaftar. Secara agregat, volume transaksi bursa karbon terlah mencapai 1,98 juta ton setara karbon dioksida (CO2 equivalent), dengan nilai transaksi terakumulasi mencapai Rp93,75 miliar.

















