Bitcoin Diburu Institusi, Harga Berpeluang Tembus US$96.000

Jakarta, FORTUNE - Permintaan institusi terhadap Bitcoin melonjak tajam hingga mencapai lima kali lipat dari pasokan harian yang dihasilkan penambang. Kondisi ini memicu proyeksi kenaikan harga BTC hingga menyentuh level US$96.000 dalam waktu dekat.
Melansir CryptoPotato, pendiri Capriole Investments, Charles Edwards, mengatakan lonjakan akumulasi oleh institusi secara historis kerap menjadi sinyal awal reli besar Bitcoin.
“Setiap kali angkanya mencapai level setinggi ini sebelumnya, harga biasanya melonjak dalam waktu satu minggu berikutnya,” ujar Edwards.
Dia menambahkan, rata-rata kenaikan pada kasus sebelumnya mencapai +24 persen dalam satu bulan, yang berarti berpotensi membawa harga ke sekitar US$96.000.
Perhitungan rasio 500 persen tersebut berasal dari pembelian harian institusi, terutama perusahaan publik dan exchange-traded fund (ETF), dibandingkan produksi harian Bitcoin yang kini hanya sekitar 450 BTC pasca peristiwa Bitcoin Halving 2024.
Saat ini, Bitcoin telah menembus level US$80.000 untuk pertama kalinya sejak Januari. Dalam 24 jam terakhir, aset kripto terbesar dunia itu bergerak di kisaran US$78.000 hingga US$80.500, dengan kenaikan sekitar 20 persen sepanjang 30 hari terakhir.
Kenaikan harga tersebut turut memicu gelombang likuidasi posisi short. Data CoinGlass menunjukkan lebih dari US$162 juta posisi short terhapus hanya dalam 24 jam terakhir.
Aktivitas perdagangan juga meningkat signifikan. Volume transaksi Bitcoin tercatat melonjak sekitar 95 persen menjadi US$34 miliar.
Optimisme terhadap Bitcoin turut disuarakan sejumlah analis lain. Trader Taiki Maeda memperkirakan perusahaan Strategy akan membeli Bitcoin senilai US$2 miliar hingga US$3 miliar dalam dua pekan mendatang melalui instrumen STRC, dengan akumulasi diperkirakan meningkat menjelang 14 Mei.
Sementara itu, analis teknikal Ali Martinez menilai tren bullish jangka panjang Bitcoin yang telah berlangsung sejak 2017 masih bertahan. Ia melihat koreksi ke level US$65.000 sebelumnya kemungkinan menjadi titik dasar pergerakan harga.
Meskipun demikian, tidak semua pihak sepenuhnya optimistis. CryptoQuant mengingatkan bahwa penguatan harga Bitcoin belakangan dinilai lebih dipengaruhi aktivitas perdagangan futures dibanding permintaan riil di pasar spot.
Indikator permintaan on-chain selama 30 hari bahkan tercatat berada di zona negatif sepanjang April.
“Perbedaan antara kenaikan harga dan melemahnya permintaan di pasar spot menjadi salah satu sinyal on-chain paling jelas bahwa penguatan harga saat ini lebih bersifat spekulatif ketimbang didorong fundamental yang kuat,” demikian ditulis CryptoQuant.
Kondisi saat ini memiliki kemiripan dengan fase awal pasar bearish pada 2022, sehingga investor dinilai tetap perlu mewaspadai potensi volatilitas di pasar kripto.















