Jelang Long Weekend, Laju IHSG Diproyeksi Terbatas Karena Sentimen Ini

Jakarta, FORTUNE - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan terbatas pada Kamis (30/4), menjelang libur panjang akhir pekan.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal IHSG masih berpeluang bergerak terbatas dalam fase sideways dengan area support di level 7.000 dan resistance di 7.160. Daftar saham yang ia soroti hari ini, yakni: CDIA, AKRA, dan SMDR.
"Pasar akan mencermati pergerakan harga komoditas minyak dunia, keputusan suku bunga dari Federal Reserve yang diproyeksikan tetap di level 3,75 persen, serta sentimen menjelang libur panjang yang berpotensi menekan aktivitas transaksi," kata Reza dalam riset hariannya.
Kemarin (29/4), IHSG ditutup menguat ke level 7.101,2 atau naik 0,41 persen, melanjutkan technical rebound setelah sebelumnya berada di area oversold dan mampu bertahan di atas level psikologis 7.000. Meskipun demikian investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp986 miliar di pasar reguler yang menunjukkan tekanan jual belum sepenuhnya mereda.
Sementara itu pergerakan pasar Asia cenderung mixed sebagai respons atas kabar Uni Emirat Arab yang berencana keluar dari OPEC sehingga berpotensi mengubah peta suplai dan dinamika harga minyak global.
Senada, Phintraco Sekuritas menjelaskan, secara teknikal, indikator MACD masih membentuk pelebaran histogram negatif. Stochastic RSI berada di area oversold, namun belum menunjukkan reversal.
"IHSG berpeluang menguji level MA5 di sekitar level 7.156, namun perlu diwaspadai potensi profit taking menjelang long weekend. Diperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 7.050-7.150," kata tim riset Phintraco Sekuritas.
Daftar saham yang disoroti tim Phintraco pada perdagangan hari ini adalah UNVR, CDIA, IMPC, AADI, dan ITMG.
Dalam jangka menengah-panjang, Bank Dunia memproyeksikan harga energi akan meningkat 24 persen pada tahun ini ke level tertinggi sejak dimulainya perang Rusia-Ukraina pada 2022. Selain itu, harga komoditas secara keseluruhan diperkirakan akan meningkat 16 persen pada tahun ini, didorong oleh kenaikan harga energi dan pupuk, serta kenaikan beberapa harga komoditas logam.
Dari AS, akan dirilis indeks PCE prices bulan Maret 2026 yang diperkirakan naik di level 3,3 persen dari 2,8 persen pada Februari 2026 (30/4). Sedangkan data pertumbuhan ekonomi AS di kuartal-I 2026 diperkirakan tumbuh 1,5 persen (QoQ) dari 0,5 persen (QoQ).
Dari Tiongkok, investor akan mencermati data manufaktur dan non manufaktur bulan April (30/4). Sedangkan dari Euro Area, akan dirilis data PDB kuartal-I 2026, inflasi, tingkat pengangguran, serta hasil pertemuan ECB (30/4).
Menurut konsensus, diperkirakan ECB masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 2,15 persen. Demikian juga dengan perkiraan hasil kebijakan BoE yang berpotensi masih mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75 persen (29/4).


















