Saham Big Banks Volatile 2-3 Bulan ke Depan, Bukan Hanya Karena Rupiah

Jakarta, FORTUNE - Aksi jual bersih investor asing masih membayangi saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo (big caps) hingga akhir April 2026. Penyebabnya bukan hanya depresiasi rupiah, melainkan kombinasi berbagai sentimen.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mencatat, selama seminggu terakhir, aksi jual bersih asing mencapai Rp8,62 triliun di pasar reguler. Saham-saham perbankan merupakan salah satu yang paling terdampak. Per 28 April saja, saat terjadi outflow asing sebesar Rp2 triliun, penjualan didominasi oleh saham seperti BBCA, BMRI, dan BBRI.
Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai, hal tersebut terjadi karena berbagai kombinasi sentimen. "Menurut saya bukan hanya soal rupiah," katanya kepada Fortune Indonesia, Kamis (30/4).
Saat rupiah melemah, dolar Amerika Serikat (AS) menguat. Alhasil, dana asing memilih untuk mempertahankan modalnya di aset berbasis dolar AS. Ditambah lagi, terdapat risk-off sentimen karena geopolitik.
Sentimen lainnya adalah kekhawatiran pasar terhadap kualitas kredit dan potensi perlambatan pertumbuhan kredit dalam negeri. Yang terakhir, sentimen mengenai rotasi (positioning) aliran dana investor.
Wafi sendiri memproyeksikan rupiah masih akan dibayangi volatilitas sehingga pelemahan berpotensi berlanjut di kisaran Rp17.200–17.800 per dolar AS. Itu karena tekanan eksternal yang masih dominan, dengan adanya kondisi higher for longer di AS dan kuatnya US Dollar Index (DXY).
"Jangka menengah bisa stabil kalau ada intervensi BI, inflow balik, dan sentimen global mereda, tapi belum lihat katalis kuat dalam waktu sangat dekat," ujarnya.
Selama rupiah dan sentimen global belum stabil, Wafi memperkirakan volatilitas saham-saham big banks masih akan terasa 2–3 bulan ke depan. Ia pun mengimbau agar investor tidak panik.
"Fokus ke bank dengan fundamental kuat, dan manfaatkan volatilitas untuk akumulasi bertahap, karena secara jangka panjang sektor ini tetap salah satu proxy terbaik ekonomi Indonesia," katanya.
Pada penutupan perdagangan Kamis, saham-saham big caps perbankan kompak memerah, dengan detail: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 2,61 persen; PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 2,11 persen; PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 2,09%; dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 0,90 persen.
Proyeksi dampak sentimen harga minyak ke perbankan
Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas, Edi Chandren, mencatat, berdasarkan estimasi konsensus analis per Selasa (29/4), median pertumbuhan laba bersih saham 4 big banks diproyeksikan berkisar di 5 persen (YoY) pada 2026.
"Kami menilai estimasi konsensus tersebut memiliki potensi downside risk yang belum terefleksikan dalam skenario harga minyak yang bertahan di level tinggi untuk periode yang lebih panjang (higher for longer)," kata Edi dalam riset pada Kamis pagi.
Sebagai konteks, harga minyak naik ke atas US$110 per barel pada Selasa, setelah sempat melemah ke rentang US$90 per barel medio April 2026. Itu akibat negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan pengakhiran perang yang mengalami kebuntuan.
Dus, Stockbit menilai investor setidaknya perlu memetakan potensi risiko di tengah sulitnya memprediksi kapan harga minyak kembali melandai.
"Bagi sektor perbankan, harga minyak yang tinggi berpotensi menekan perekonomian, sehingga dapat mengurangi permintaan kredit dan pemburukan kualitas aset, yang pada gilirannya membutuhkan kenaikan beban pencadangan," jelasnya.

















